|
Posts
|
Not sure when I'll update this blog again.
Meanwhile, happy new year 2012.
All the best and many happy returns.
@ Cartoon from Graham Wilson found on CartoonBank
I think wisdom and sense of humor go hand in hand, as exemplified by how Ramona Pierson share her amazing recovery from her near death experience.
Bersemayam di makam sederhana bertabur kentang ini adalah mendiang Friedrich der Große, salah satu raja Prussia terbesar. Kentang-kentang berserak di atas makam ini bukanlah penghinaan. Mereka ditabur sebagai pengingat jasa almarhum dalam mempopulerkan kentang di Eropa.
Makanan asli suku Inca di Amerika Selatan ini diperkenalkan ke Eropa oleh penjelajah dari Spanyol. Tetapi tidak mudah bagi penduduk Eropa pada saat itu untuk menerima makanan baru yang masih asing. Kalangan atas yang terpelajar lebih mudah untuk menghargai nilai makanan baru. Mereka sudah menyadari bahwa kentang merupakan sumber pangan yang bisa tumbuh di berbagai kondisi cuaca, dan tahan lama setelah di panen, dan merupakan solusi yang baik untuk mencegah bahaya kelaparan saat gagal panen. Sementara khalayak umum masih curiga dengan makanan baru yang datang dari Amerika Selatan ini. Ketika Frederick the Great memerintahkan rakyatnya untuk menanam kentang sebagai pencegahan atas kemungkinan bencana lapar, mereka protes, "Bahkan anjing pun tidak mau makan kentang, kenapa kami harus makan makanan seperti itu?" Untungnya Frederick the Great tidak kehilangan akal. Dia memang seorang yang cerdik, ahli perang yang juga teman diskusi Voltaire ini menggunakan reverse psychology untuk membujuk orang-orang agar mau menerima kentang. Dia menanam kebun kentang kerajaan di dekat hunian penduduk. Perkebunan tersebut dijaga oleh pasukan pengawal siang malam. Warga menjadi penasaran, dan berpikir bahwa apapun yang dijaga ketat, pasti berharga dan layak untuk dicuri. Akhirnya "kentang kerajaan" pun mulai menjadi populer dan bisa dinikmati masyarakat Eropa sampai saat ini.
Berita tentang ibu Siami ini memang sangat memprihatinkan. Memprihatinkan dan membuat bertanya-tanya mengapa bisa sampai seperti itu ? Mengapa sampai secara berjamaah para guru, murid, dan bahkan warga sekampung mengabaikan nilai-nilai kejujuran, menghalalkan segala cara untuk kelulusan ?
Ada gerakan bagus #IndonesiaJujur yang mengajak kita untuk menghargai kejujuran. Gerakannya bagus, dan semoga semangat kejujuran ini bisa tetap terjaga. Tapi apakah gerakan ini menyentuh akar dari permasalahan yang melatarbelakangi kasus ibu Siami itu ? Entahlah. Saya tidak terlalu yakin.
Seandainya tahun depan, sekolah yang sama tetap tidak siap menghadapi ujian nasional, dan mereka dihadapkan pada kondisi dan pilihan yang kurang lebih sama, demi menjaga semangat dan nilai kejujuran itu, apa saja yang siap untuk mereka korbankan ?
Ada video menarik yang mengupas permasalahan yang lebih mendasar dari masalah etika, tapi menyentuh masalah yang lebih mendasar terkait pendidikan. Ini adalah pendapat dari Sir Ken Robinson, seorang penulis dan pendidik :
Sir Ken Robinson bahkan sampai mengatakan bahwa model pendidikan yang ada sekarang ini sudah tidak lagi bisa diperbaiki, tapi harus dirombak habis, harus ada revolusi pendidikan. Mungkin saya tidak sampai hati untuk menyetujui saran revolusi pendidikan, karena terlalu rumit untuk diterapkan di Indonesia. Tapi paling tidak identifikasi masalah, bahwa ada kesalahan mendasar yang lebih dari sekedar masalah etika, saya rasa saya sangat setuju dengan beliau. Semoga akan ada perbaikan dalam dunia pendidikan di Indonesia supaya kasus Ibu Siami ini tidak terulang lagi.
Ada bermacam cara untuk mempelajari suatu hal yang baru. Waktu kecil kita belajar meniru apa yang dilakukan orang tua. Kita memperhatikan apa saja yang mestinya dilakukan, mendengarkan apa saja yang harus dihindari. Anak kecil yang selalu patuh, mengikuti petunjuk dan tidak pernah melawan peringatan biasanya kita juluki sebagai anak baik, anak pintar. Anak kecil yang selalu membantah, tidak mau mengikuti perintah, malah cenderung tertarik untuk mencoba melakukan hal yang dilarang, biasanya kita juluki sebagai anak bandel, ngeyelan.
Si anak baik yang selalu manut, mungkin akan menjalani hidupnya dengan lancar meniti jalan kehidupan sesuai rambu-rambu yang sudah dipersiapkan oleh orang tuanya. Si anak bandel yang selalu ngeyel, mungkin akan bolak balik tersandung dalam perjalanan hidupnya, hidupnya lebih bervariasi dan sering membuat orang tuanya mengurut dada. Sepertinya kalau harus memilih mending mana punya anak bandel ngeyelan, atau anak baik yang selalu manut ? Mungkin tidak akan ada yang memilih anak bandel ngeyelan. Kecenderungan untuk menganggap anak-anak bandel dan ngeyelan ini tidak bisa diharapkan lagi, memang bisa dimaklumi.
Tapi barangkali kecenderungan ini tidak selalu akurat.
Manut mengikuti rambu-rambu yang sudah dianggap baik tanpa mempertanyakan lagi, memang lebih mudah daripada ngeyel dan mencoba-coba berjalan tanpa rambu sambil menyusun peta sendiri. Yang pertama berjalan dengan mengandalkan pengalaman orang lain dan tidak perlu membuat penilaian tersendiri. Yang ke dua mempertanyakan kembali kemana harus melangkah di setiap percabangan, kalau ternyata keliru ya konsekuensinya ditanggung sendiri.
Berjalan mengikuti peta yang dibuat oleh orang lain akan membawa kita sampai ke tujuan, asalkan kita melintasi daerah yang memang sudah dijelajahi sebelumnya.
Bagaimana ketika kita harus berjalan melintasi wilayah yang masih belum pernah dikunjungi ?
Anak baik mungkin akan berhenti berjalan menunggu sampai ada rambu-rambu yang mengijinkannya melangkah.
Anak bandel ? Barangkali dia akan ngeyel berjalan terus sambil memetakan apa yang akan terjadi di depan.
Toh selama ini dia sudah biasa berjalan tanpa peta.
Waktu anak saya mengambil buku ini untuk dipinjam dari perpustakaan saya kaget: "Lho kok tumben pinjem buku yang bukan tentang Dinosaurus ?" Itu ada bendera Axis, seperti yang di Enemy Territory. Ternyata bocah itu salah ambil buku karena lambang Swastika yang ada di game. Dia hanya tertarik dengan gambarnya.
Untung Ananta hanya tertarik dengan gambarnya, bukan propagandanya. Judul buku itu serem: Propaganda in oorlog & vredestijd, het manipuleren van de waarheid (propaganda di masa perang dan masa damai, manipulasi kebenaran) . Mau jadi apa kalau kecil-kecil sudah tertarik untuk belajar bagaimana caranya memanipulasi kebenaran ?
Gambar-gambar di buku ini tidak terlalu banyak, tidak menarik untuk anak kecil, tapi karena kadung dipinjam akhirnya buku itu pun dibaca oleh ayahnya. Karena tidak berminat untuk mendalami propaganda, saya hanya baca sekilas beberapa halaman awal dan akhir. Pada bagian awal ada definisi propaganda sebagai mekanisme untuk menggunakan informasi dalam rangka memanipulasi opini publik, terlepas dari kebenaran ataupun kelengkapan dari informasi yang disajikan.
Pada bab terakhir ada penjelasan tentang Institute for Propaganda Analysis yang dibangun di Amerika pada tahun 1937. Lembaga ini didirikan atas dasar kekhawatiran karena banyaknya propaganda di masa-masa menjelang perang dunia ke II. Banyaknya propaganda ini melemahkan kemampuan publik untuk berpikir kritis dan memiliki opini sendiri, sehingga mereka menjadi sangat mudah dipengaruhi. IPA mengidentifikasi 7 instrumen propaganda yang perlu diwaspadai.
Untuk menghindari diskusi yang objektif dan kritis tentang suatu masalah, teknik naam noemen (name calling) bisa digunakan. Panggil saja seorang politisi sebagai pembohong, penculik, atau koruptor berlumpur, maka diskusi selanjutnya dijamin akan berlanjut emosional :D.
Mendobos dengan menggunakan jargon-jargon indah yang membuai seperti misalnya demokratis, demi masyarakat madani, reformasi, kebijaksanaan lokal akan membangkitkan emosi positif korban propaganda. Apapun yang berikutnya diucapkan bisa secara tidak sadar diamini oleh pendengar karena terlanjur terbuai oleh jargon-jargon indah yang diselipkan. Teknik ini dikenal dengan sebutan schoene algemeenheid (glittering generalities).
Minjem nama orang lain untuk kesaksian juga sepertinya dianggap sebagai teknik yang ampuh. Misalnya gunakan saja pendapat tokoh agama untuk memperkuat pendapat anda. Teknik overdracht (transfer) dan getuigenistechniek (testimony) ini sering digunakan sejak jaman Orde Baru, "para tokoh agama ingin Haji Suharto jadi presiden lagi !" adalah teknik lagu lama yang dulu sering terdengar sampai bosan selama lebih dari 30 tahun.
Penggunaan kata Orde Baru sendiri sebenarnya merupakan salah satu contoh glittering generalities tadi, ndobos menggunakan kata-kata "Baru" yang terkesan menjanjikan, penuh harapan dan tetap digunakan sampai orde baru itu sudah hancur puluhan tahun kemudian.
Pada jaman perang dunia ke dua Hitler menggunakan teknik gewone volk (plain folks) menempatkan diri sebagai orang biasa. Orang biasa yang sama dengan target propaganda, yang sangat peduli dengan kepentingan bangsanya. Teknik ini biasanya digunakan bareng dengan teknik meelopen (bandwagon), kalo semua orang ikut mendukung Hitler masa kamu ketinggalan ? Ayo ikut. Kira-kira dulu propaganda Nazi begitu.
Teknik propaganda lain yang biasa digunakan juga adalah kaarten steken (card stacking), kalau ada informasi baik dan buruk tentang sesuatu, kita bisa memilih hanya untuk membahas yang baik-baiknya saja jika ingin melakukan propaganda positif, atau memilih untuk mengungkapkan yang buruk-buruknya saja jika ingin membuat citra negatif. Memilah informasi sesuai kebutuhan ini sudah biasa kita lihat sehari-hari dalam iklan-iklan yang mempromosikan produknya ataupun juga media yang menjadi corong kepentingan politik tertentu.
Makanya hati-hati dengan para ahli periklanan yang sudah terbiasa melakukan propaganda positif terhadap produknya. Begitu mereka masuk ke lahan politis, mereka akan jadi propagandist yang handal :)
Resignation is of two sorts, one rooted in despair,
the other in unconquerable hope.
~Bertrand Russel
Kepasrahan, menurut Bertrand Russel bisa berakar dari keputusasaan, tapi bisa juga berakar dari harapan yang tidak terpupuskan. Ketika seseorang memiliki suatu harapan yang melintasi batas kepentingan pribadinya, ketika seseorang percaya akan sesuatu tujuan mulia yang selama ini ingin dicapainya. Maka segala rintangan hidup akan dapat dijalani dengan keikhlasan dan kepasrahan yang bersumberkan pada harapan tersebut.
Kutipan di atas berasal dari salah satu buku Bertrand Russel yang mungkin jarang dibaca orang:The Conquest of Happiness. Buku tersebut ditulis pada saat Russel berusia 58 tahun, di ujung pernikahan yang ke dua saat istrinya mengandung janin yang ternyata bukan darah dagingnya sendiri, tetapi merupakan anak Griffin Barry, seorang jurnalis dari Amerika. Barangkali buku ini merupakan usaha Russel untuk menghadapi kenyataan yang pahit, dalam usahanya untuk tetap terus melangkah.
Ternyata dalam keadaan yang tertekan Bertrand Russel masih mampu menghasilkan buku yang menurut artikel ini mengandung pemikiran-pemikiran yang sejalan dengan Cognitive Therapy, salah satu metode terapi psikologis yang kalau saya tidak salah tangkap, berbeda dengan psychoanalysis-nya Freud atau behavioural therapy-nya Skinner.
(disclaimer: mulai dari kalimat ini ke bawah, kemungkinan besar isinya tidak akurat karena saya bukan psikolog, tapi ini hanya interpretasi dan pemahaman saya tentang artikel di atas).
Freud berusaha menggali alam bawah sadar, karena percaya bahwa dengan memahami apa yang ada di alam bawah sadar, apa yang ada di alam sadar bisa lebih mudah dimengerti. Sementara terapi kognitif mencoba untuk menggunakan pemikiran di alam sadar (conscious thought) untuk mempengaruhi apa yang berjalan secara otomatis di alam bawah sadar (subconscious thoughts).
Alam bawah sadar biasanya berjalan secara otomatis. Automatic thoughts,secara tidak sadar ada pemikiran yang bisa memicu munculnya pemikiran lain tanpa kita sadari. Kadang pemikiran otomatis ini tidak rasional, tidak masuk akal tapi berjalan secara otomatis sehingga akhirnya berujung dengan kecemasan, depresi dan ketidak tenangan batin.
Apa kata Russel tentang bagaimana kita mesti menyikapi pemikiran otomatis yang punya kecenderungan untuk berpikir negatif dan selalu cenderung meramalkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi ?
When some misfortune threatens, consider seriously and deliberately what is the very worst that could possibly happen. Having looked this possible misfortune in the face, give yourself sound reasons for thinking that after all it would be no such very terrible disaster. Such reasons always exist, since at the worst nothing that happens to oneself has any cosmic importance.
When you have looked for some time steadily at the worst possibility and have said to yourself with real conviction, "Well, after all, that would not matter so very much", you will find that your worry diminishes to a quite extraordinary extent.
Apa yang dikatakan Russel ini ternyata sejalan dengan dasar-dasar terapi kognitif yang baru tiga puluh tahun kemudian mulai dipraktekkan. Saat menghadapi kecemasan dan ketidak pastian, kita mungkin bisa mencoba merunut jalan pikiran yang menjadi akar kecemasan ini, barangkali ada pemikiran otomatisyang sebenarnya tidak rasional dan tidak perlu didengarkan.
Sehingga apapun yang terjadi akhirnya bisa dihadapi dengan kepasrahan yang tetap berlandaskan pada pengertian, penerimaan dan harapan.
Didedikasikan untuk seorang penggemar BB Russel di Indonesia,
yang sepertinya sekarang sedang gelisah.
Di balik penjara keraton aktivis muda itu membelalak tidak percaya:
"Jadi tiga dekade lalu ayah pendukung setia monarki ?!" #fiksimini
Nilai-nilai demokrasi tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan dengan konstitusi mau pun nilai-nilai demokrasi. Mungkin dua kalimat inilah yang paling disesali oleh presiden SBY sepanjang tahun 2010. Kalimat yang akhirnya diralat, setelah mendapat reaksi yang hebat dari masyarakat. Reaksi yang menggelitik saya untuk berandai-andai. Andai saja dua kalimat sial itu diucapkan bukan oleh pak SBY, tapi oleh pak Pendi satpam kampus partner main pingpong saya dulu. Beliau sudah lulus SMA sehingga mestinya tahu apa itu demokrasi ataupun monarki.
Berbeda dengan pak SBY yang seorang presiden, pak Pendi adalah seorang satpam yang polos, jujur dan tidak punya kepentingan apa-apa. Pak Pendi bukan presiden, dan tidak ikut partai apapun. Sehingga apa yang dia katakan bisa kita pahami secara literal. Pernyataan pak Pendi sebenarnya sederhana. Yang pertama dia bilang bahwa : Nilai-nilai demokrasi tidak boleh diabaikan
Saya rasa tidak ada yang keberatan dengan apa kata pak Pendi. Asalkan yang dimaksud adalah nilai-nilai positif dari demokrasi, berhubung demokrasi bukanlah sistem yang sempurna sehingga pasti ada cacatnya juga.
Pernyataan ke dua pak Pendi sedikit lebih rumit : Tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan dengan konstitusi dan nilai-nilai demokrasi Apa maksud pernyataan pak Pendi ini kira-kira ? Ada dua kasus yang bisa dibahas terkait pernyataan kedua pak Pendi. Pertama, kalau memang tidak ada monarki, maka tidak ada yang perlu dibahas lagi. Sama seperti saat kita mendengar ada yang bilang bahwa tidak boleh ada pria hamil yang melakukan aborsi. Selama tidak ada pria yang hamil, tidak ada yang perlu kita bahas lagi.
Kedua, kalau ternyata ada monarki maka pak Pendi bermaksud untuk menyatakan bahwa monarki yang ada ini tidak boleh bertentangan dengan konstitusi atau demokrasi. Artinya ya kalau memang ada sistem monarki, apa yang ada harus merupakan sistem monarki yang konstitusional dan demokratis.
Menurut saya, pernyataan pak Pendi ini sederhana, polos dan bisa dipahami apa adanya. Sayangnya yang mengeluarkan pernyataan bukanlah pak Pendi, atau pak Jamiatul Isro temannya sesama satpam. Yang mengeluarkan pernyataan adalah bapak presiden SBY, dari partai Demokrat, yang mungkin sudah punya calon gubernur sendiri dari partainya.
Fakta terakhir inilah yang membuat semua jadi runyam. Pernyataan pak SBY tidak bisa lagi dipahami secara sederhana sebagaimana kita memahami pernyataan pak Pendi. Entah kenapa persisnya, para politisi, dosen, pakar dan guru besar pun kebingungan menghadapi pernyataan ini, karena yang mengungkapkan bukan lagi pak Pendi.
Ada politisi yang bertanya-tanya monarki apanya? Ada lagi politisi yang dengan yakin bilang sama sekali tidak ada monarki di Yogyakarta. Ada Guru Besar yang bilang bahwa apa yang ada di Yogyakarta adalah monarki konstitusional seperti yang ada di Eropa. Di tengah kebingungan ini untunglah ada penjelasan dari dosen UGM yang mudah saya pahami. Beliau menjelaskan bahwa yang ada di Yogyakarta bukanlah sembarang monarki, tetapi monarki yang sudah membidani lahirnya demokrasi. Kalau saya harus mengulang ujian SMP dan saat UAS tiba-tiba ada pertanyaan apakah ada monarki di Yogyakarta? saya rasa penjelasan dari pak dosen Dr. Sri Margono lulusan Leiden yang dulu pernah mampir ke Amsterdam inilah yang akan saya ikuti.
Bahwa selama masih ada Sultan, ya monarki itu memang masih ada di Yogyakarta. Bukan monarki absolut, tapi bukan pula monarki seperti yang ada di Eropa. Kecuali jika Pangeran Willem Alexander dipilih langsung menjadi Perdana Menteri Belanda, atau Pangeran Charles ditunjuk menjadi Perdana Menteri Inggris, baru saya akan bilang sama persis. Sesuatu yang ada di tengah-tengah, bukan hanya monarki simbolis seperti di Eropa karena sultannya juga merangkap menjadi gubenur, tapi bukan pula monarki absolut karena Pemda DIY masih butuh persetujuan DPRD dan mengikuti mekanisme yang sebagian besar sama dengan provinsi lain.
Kalau saya jadi sultan, saya tidak akan bilang bahwa saya tidak tahu apa maksud SBY (entah beliau paham maksud pak Pendi atau tidak). Kasihan rakyat yang akhirnya malah marah dan kebingungan, kasihan guru SMP yang mungkin mesti mengubah kunci jawaban UAS tentang apakah monarki itu demokratis atau tidak, dan mungkin perlu membuat definisi baru tentang monarki. Sebaliknya saya akan bilang begini:
Ya saya memang seorang Sultan, saya seorang monarch. Tapi tidak usah khawatir karena seperti yang sudah dicontohkan pendahulu saya, tahta saya sekarang ini pun untuk rakyat. Tidak seperti rakyat Salatiga yang bisa memilih orang biasa seperti Jokowi untuk menjadi walikota, rakyat Yogyakarta yang istimewa memilih untuk tetap setia pada Sultan tanpa perlu adanya pilihan lain. Maka tidak bisa tidak, sebagai Sultan saya harus memberikan yang terbaik untuk rakyat Yogyakarta.
Tapi apa boleh buat, saya bukan sultan. Dan pak SBY bukan satpam seperti pak Pendi yang bisa kita pahami pernyataannya secara sederhana. Jadi kita terpaksa menikmati kebingungan yang diciptakan para politisi, pakar dan guru besar dalam memaknai pernyataan ini. Saya berharap kalo pulang masih bisa ketemu pak Pendi untuk main pingpong lagi dan minta maaf sudah pinjam namanya.
Saya sedang malas nulis, tapi tidak terlalu malas untuk mainan mind map dan memuat kembali rekaman dongeng yg saya buat kemarin.
Dongengnya bisa didengar di sini atau langsung dari situs Dongeng Sebelum Tidur.
Pada akhir dongeng di atas, sang raja marah saat disadarkan bahwa dia telanjang, kadang kebenaran itu pahit dan kalau sudah terlanjur malu akhirnya lebih gampang marah-marah saja.
Hubungan marah-marah, subjektifitas, objektifitas dan bagaimana kita menghadapi permasalahan apa ? Saya sedang males nulis, kira-kira seperti yg ada di mind map berikut ini.
Silahkan dihubung-hubungkan sendiri dengan apa yang sekarang terjadi :)
Kontrak politik antara Bupati Wonogiri H Danar Rahmanto dengan tiga partai pengusungnya, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Gerindra, yang ditandatangani 23 April 2010 lalu. Bunyi kontrak politik itu, sebagaimana dikemukakan Ketua DPC PPP Wonogiri, Anding Sukiman, menyatakan Bupati terpilih wajib membuat kebijakan yang menjamin terlaksananya ajaran agama secara baik dan benar, serta menghilangkan segala bentuk kegiatan pemerintah yang merusak keyakinan beragama dan moral masyarakat.
Sabda begawan blog Indonesia :
Hanya mereka yang tak peduli mau ditanggapi atau tidak — dan niat utama ngeblog bukanlah mendapat pengakuan dan ketenaran plus teman — yang dapat terus bertahan dengan blognya dan rajin meng-update. Itulah yang saya maksudkan dengan seleksi. Jangan lupakan salah satu sisi blog: menulis untuk diri sendiri :D
Menulis untuk diri sendiri, akhirnya memang hanya ini yang bisa saya katakan untuk menjaga agar blog ini tidak mati suri terlalu lama. Demi menyelamatkan diri dari seleksi alam, mungkin memang sebaiknya saya meluruskan niat bahwa saya menulis sekedar untuk mengurai apa yang bersliweran dan mengganggu pikiran sendiri. Niatnya hanya untuk diri sendiri, lha tapi kok dipampang di tempat umum ?
Nah itu, sebenarnya kalau murni untuk diri sendiri banyak sekali catatan dalam bentuk berkas teks di hard disk. Isinya jauh lebih kacau dan tidak beraturan dari apa yang ada di sini. Mestinya yang dijembreng di tempat umum punya potensi untuk bermanfaat bagi orang lain, sekecil apapun potensi itu.
Apa potensi manfaat tulisan yang tidak jelas ini ? Bisa macam-macam, tergantung pembaca. Contoh manfaat yang sederhana misalnya tulisan ini bisa untuk jadi bahan tertawaan. Lha ya lucu wong katanya untuk diri sendiri kok di tempat umum.
Atau bisa juga untuk menghibur dan membuat pembaca jadi lebih bersyukur. "Alhamdulillah, saya tidak pernah membuat tulisan yang tidak jelas seperti yang dibuat orang iseng ini, ngabis-abisin bandwith aja."
Bisa juga menjadi contoh yang keliru tentang bagaimana seseorang mestinya menulis. Saya yakin kalau dicari-cari pasti ada ejaan yang keliru dalam tulisan ini. Wong bagaimana caranya menulis awalan "di" saja saya masih bingung dan tidak peduli (atau perduli ?) kok mau nulis blog.
Begitu, jadi tulisan ancur-ancuran inipun ternyata berpotensi untuk bermanfaat bagi para pembaca yang budiman toh ?
Karena orang bisa belajar dari hal yang baik, dan juga bisa belajar dari kesalahan.
Jadi se ancur apapun tulisan untuk diri sendiri ini, tetep mungkin ada manfaatnya bagi orang lain.
Dengan demikian saya lanjutkan niat menulis untuk diri sendiri ini, dengan harapan tetap bisa jadi bahaan celaan dan kepuasan batin pembaca.
Amin.
Pidato anak menteng dalam yang pulang kampung nih memang sangat mengesankan. Orator ulung yang bisa menggenggam jiwa pendengar dari awal sampai akhir pidatonya.
my times here helped me appreciate the common humanity of all people.
the spirit of religious tolerance that is enshrined in Indonesia’s Constitution, and that remains one of this country’s defining and inspiring characteristics.
International Volcanic Health Hazard Network (IVHNN) menyebarkan beberapa pamflet informatif yang didesain untuk anak-anak tentang bahaya kesehatan abu gunung berapi. Rasanya perlu dibuat versi Indonesianya dan disosialisasikan di daerah saudara-saudara pengungsi yang sedang terkena bencana merapi.
Sekali lagi mungkin ini sudah dilakukan di Indonesia, hanya saja mata saya yang rabun dari kejauhan tidak melihat. Andai belum semoga ada graphic designer atau pembuat pamflet yang melihat ini dan tergerak untuk membuat versi Indonesianya.
“We don’t have such early warning system technology yet,” Ade said yesterday.“The tsunami in Mentawai is the fastest in the world,” Ade said.
Subandono Diposaptono, the Maritime and Fishery Ministry’s Coastal Director said in Mentawai, the early tsunami warning system that relies on technology is irrelevant.
“The key is local wisdom. If there is a hard earthquake, people must immediately go to the hills,” he said.
Begitulah, kalau yang ada memang hanya central stupidity, maka tidak ada pilihan lain selain mengandalkan local wisdom.
Malam ini penduduk Yogyakarta sempat panik setelah turun hujan abu yang dilaporkan sebagai awan panas oleh media. Screen capture di atas hanya menunjukkan perbedaan di media tertulis.
Kekonyolan yang terlihat lebih nyata adalah saat media TV mendramatisir pelaporan yang berpotensi menimbulkan kepanikan masyarakat.
Ada yang perlu ganti slogan :
Terdepan menyesatkan, membahayakan keselamatan.
Sebenarnya permintaan tolong kemarin merupakan gabungan antara rasa penasaran dan kebutuhan akan pelampiasan.
Ternyata ada beberapa open source yang bisa tinggal dipakai berkaitan dengan mitigasi bencana. Teknologinya sudah ada, tinggal bisa atau tidak mencarikan pemakainya.
Update: Alhamdulillah, plea for help had been answered. Ternyata ada adik kelas beda 12 angkatan dari fasilkom yang kerja di actforhumanity.or.id. Crossing my fingers, semoga dia bisa melanjutkan.
Update lagi : Beberapa teman yang bertemu di twitter atas bantuan pak dalang @lantip juga sedang melihat-lihat manual FrontlineSMS. Sedang menunggu kabar dari @uradn (langsat), @fachrybafadal , @IrwanKarta (Jogja) dan @tweetfai (Iluni12-24/7)
Saya hanya berusaha agar peluang memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia tidak terlewatkan.
Kalaupun ada lebih dari satu server yang bisa menampung SMS, bisa dibagi untuk mentawai, merapi dan wasior.
Tiap Crowd Map juga kalau saya tidak salah tangkap bisa menerima update lebih dari satu server.
|
Posts
|
Paper yang menarik hari ini hasil pemikiran para pakar di IBM adalah tentang Reservoir Model for Open Federated Cloud Computing Ndak terlalu mudeng, tapi kapan-kapan saya baca lagi. Ini tadi hanya sempat membaca sambil menabung di WC pagi hari. Mungkin mesti jadi rutinitas, jadi walaupun desertasi terbengkalai masih sedikit-sedikit mengikuti perkembangan topik yang dulu menarik minat. Siapa tahu berguna.
Salah satu contoh aplikasi cloud yg dibahas dalam presentasi sebelumnya adalah untuk melatih spam filter. Spam filter hanya perlu sesekali dilatih untuk mengenali text dan bentuk-bentuk spam baru. Dengan cloud computing, dan cluster yg tersedia, waktu yg dibutuhkan untuk "latihan" mengenali spam ini bisa lebih singkat. Hasil latihan, bisa kemudian diambil dari awan dan digunakan untuk melayani pengguna yang butuh jasa penyaringan spam/spam filtering. Sampai kemudian ketika dirasa perlu untuk latihan lagi barulah pawang spam filter memanggil cloud untuk melatih spam filternya. Apa yang bisa diambil dari cerita di atas ? Cloud ini bukan pengganti infrastruktur yang setiap saat harus dipelihara dan hanya kadang-kadang digunakan. Bandingkan bisnis model si pawang spam filter seandainya dia harus punya cluster sendiri untuk melatih spam filteringnya, dengan sekarang saat dia bisa melempar sesekali spam filternya ke awan. Seberapa sering dia mesti melatih spam filter, menggunakan cloud bisa diatur, tergantung seberapa sering aplikasinya dipakai orang. Ini doang yg pengen gw catat. Jadi kalau nanti ada model aplikasi, bisnis lain yang punya karakteristik mirip spam filter ini, bisa jadi model bisnis yang sama dipakai. Karakteristik yg mirip dimana layanan yang diberikan (dalam kasus di atas spam filtering) butuh 2 fase. Fase 1, fase latihan yang butuh komputasi yang intensif, dan membutuhkan hardware tambahan yang bisa disediakan oleh awan. Fase 2, fase layanan, yang menggunakan hasil fase 1 untuk melayani kebutuhan pengguna. Nah saya rasa ini bukan hanya ada pada spam filtering. Pasti ada contoh lain yang siklusnya mirip. Dan orang sekarang bisa membuat jasa layanan seperti ini, dengan mengandalkan komputasi awan. Barangkali sampean ada ide ? |
| Barangkali blog ini akan saya gunakan sebagai kliping untuk mencatat kesan-kesan yang diperoleh, apa yang sempat dipahami, dan apa yang menarik dari paper yang kebetulan saya baca hari ini. Tadi membaca tentang Blue Print for Intercloud. Yang menulis paper tentang Intercloud Blue Print ini kebetulan orang Cisco, jadi mestinya mereka beneran mengerti apa yang mereka tulis, tidak seperti saya :) Paper ini membahas secara mendetil apa yang sempat saya singgung dalam posting sebelumnya. Sangat menarik apa yang diajukan di situ. Ada dua use case yang dibahas dalam paper tersebut yang memberikan ilustrasi diperlukannya protokol dan format khusus untuk memungkinkan adanya interoperabilitas antar awan. Skenario pertama adalah yang berhubungan dengan Virtual Machine Mobility. VM Mobility ini sudah berhasil diimplementasikan, baik oleh VMWare ataupun Xen. Dalam paper ini dibahas bahwa walaupun migrasi ini sudah bisa dilakukan, yang tetap menjadi masalah adalah kebutuhan untuk menyepakati protokol network terkait dengan migrasi. Bagaimana nasib proses lain yang sedang terhubung dengan VM yang kebetulan sedang dimigrasi ? Alokasi alamat netwokrnya ? Bagaimana kalau migrasinya pindah ke subnet yang berbeda ? Ini kalau saya tidak salah tangkap masalah yang dihadapi dalam skenario pertama ini. Skenario yang ke dua terkait dengan permasalahan yang bersifat lebih abstrak, bukan pada tingkat VM, tapi pada tingkat aplikasi. Masalah penyimpanan data dan replikasi. Seandainya klien pengguna layanan penyimpanan data dari Amazon WS (AWS) meminta alokasi data yang cukup besar, melebihi kapasitas replikasi data yang bisa disediakan secara efisien oleh AWS. Mungkin AWS akan mempertimbangkan untuk bekerjasama dengan penyedia layanan penyimpanan data lokal di dekat lokasi klien. Lokalitas data selalu menjadi prinsip utama untuk meningkatkan efisiensi layanan komputasi. Untuk bisa melakukan kerja sama ini dibutuhkan protokol antar awan yang memungkinkan AWS untuk melayani kliennya secara transparan menggunakan fasilitas layanan data lokal. Ini dua skenario yang dibahas oleh paper itu dan berikutnya secara detil ada usulan protokol-protokol yang mungkin dibutuhkan untuk bisa mewujudkan dua skenario di atas. Saya membaca sekilas, dan cukup malas untuk menulis di sini. Kapan-kapan kalau tidak malas saya tulis, paling tidak permasalahannya tergambar di sini. |
| Susah amat nerjemahin Cloud Interoperability ? Kalau beneran tertarik dengan komputasi awan yang dibahas sebelum ini dan mencoba untuk melakukan penelitian dalam bidang itu, kira-kira arahnya, atau keyword yang sekarang sedang menjadi 'topik panas' adalah keterhubungan antar awan, a.k.a Cloud Interoperability. Kenapa ? Karena kira-kira setelah adanya komputasi awan ini orang mulai mikir, gimana kalau saya mulai bikin aplikasi di awan A ternyata kurang reliable atau kekurangan resource dan perlu tambahan bantuan dari awan B ? Gimana kalau saya punya data yang sensitif dan melakukan manipulasi di awan privat punya saya sendiri, tapi karena butuh bantuan komputasi yang intensif akhirnya saya manggil awan publik dan minta bantuan ? Gimana kalau setelah saya bikin image mesin virtual yg bisa jalan di Amazon, saya mau image itu bisa langsung jalan juga di awan yang lain, misalnya Slicehost ? Kira-kira ini yang membuat cloud interoperability menjadi mimpi yang menarik untuk dibahas. Pada umumnya waktu orang ngomong cloud interoperability biasanya yang menjadi fokus adalah pada tingkat image VM (virtual machine), seperti kasus terahir yg saya sebut di atas. Tapi tentu saja sebenarnya bisa dilevel aplikasi, atau tingkat lain yang lebih tinggi selain VM. Yang perlu dilihat adalah penelitian ke arah distributed cache, tuple spaces dan kawan-kawan. IMHO, ini arah penelitian yang menarik kalau ada yang mau meneliti tentang bagaimana menerapkan kembali distributed cache dengan adanya peluang cloud computing ini. Pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab apa ? Entahlah, coba aja kalau ada yg tertarik, ya yang pada tertarik aje yg mikir pertanyaannya apa. Saya mah cuman iseng nulis di sini asal-asalan :) |
| Kalau diterjemahkan begini lucu juga ya komputasi awan. Tapi sekedar catatan Cloud Computing ini sepertinya sedang jadi buzzword yang ngetrend beberapa tahun belakangan ini. Buat yang tertarik untuk memahami apa sebenarnya Cloud Computing ini bisa melihat Berkeley's view tentang Cloud computing di sini. Sangat menarik dari berbagai sudut pandang. Dari developer yang ingin membuat aplikasi baru, tanpa modal hardware dia bisa membuat aplikasi yang berpotensi untuk digunakan oleh orang banyak. Asalkan aplikasinya scalable, dan kalau tiba-tiba aplikasinya terkenal, cloud computing bisa membantu dia menyediakan komputasi sebanyak mungkin yang dia perlu. Ini karena sifat awan komputasi yang elastis. Bisa membesar sesuai kebutuhan. Bagi perusahaan yang kadang-kadang melakukan business analytics, analisis bisnis yang tidak terus-terusan dilakukan, pay as you go ini lebih baik daripada investasi hardware sendiri. Daripada miara server untuk melakukan komputasi, bayar ac sendiri, bayar hardware, upgrade dan maintenance, mendingan sesekali aja kalau perlu, lempar komputasi ke awan. Bagi peneliti, sekarang Matlab dan Mathematica udah menyediakan fasilitas untuk mengirim komputasi ke awan, untuk komputasi matematika simbolis yang butuh pemrosesan dalam jumlah besar. Jadi sangat menarik, tentu bukan tanpa masalah. Ada list 10 masalah yang juga sekaligus menjadi peluang dalam cloud computing ini. Baca sendiri aja artikelnya, tapi kalau tidak salah yang menjadi sorotan adalah reliability, availability, data locking, dan security. Masalah-masalah ini memang anekdotal, sudah ada beberapa kejadian perusahaan yg kehilangan data 20000 pelanggannya di awan dan akhirnya saling tuding dengan provider cloudnya. Reliability dana availability juga beberapa kali keliatan di pelanggan besar Amazon computing services. Tapi semua masalah ini ujung-ujungnya ya peluang juga. Belum dari developernya sendiri, kalau bener bikin aplikasi yang bisa scale sampe besar, debugging dan peluang salahnya lebih besar. Gimana caranya ngetest ? Tapi keren kalau diliat-liat sebenernya banyak peluang terbuka dengan CC ini. Hardware yang scalable dan bisa membesar sesuai kebutuhan tersedia dengan dana awal yang seadanya. Yang menjadi batas tinggal imajinasi. Bukannya dari dulu pun begitu ? |
Akhirnya setelah beberapa minggu heboh, para pakar tampaknya mulai sepakat bahwa ada beberapa kesalahan yang fundamental dalam pembuktian P != NP yang diajukan oleh Vinay Deolalikar. Bantahan yang paling mendasar datang dari Neil Immerman.
Neil Immerman ini kebetulan salah seorang pakar dalam bidang teori finite modelling. Sementara dalam pembuktiannya Vinay Deolalikar menggunakan asumsi dan interpretasi dari finite modelling yang tidak tepat. Ketauan lah sama pak Neil ini, sepertinya ini kesalahan paling mendasar yang ditemukan oleh para pakar.
Sementara itu pakar-pakar lain banyak yang menemukan kekurangan lain, semuanya dirangkum dan bisa dilihat di wiki ini. Vinay Deolalikarnya sendiri masih belum menyerah, dia masih merevisi dan akan mengirim kembali naskah finalnya ke peer reviewed journal. Selama ini memang yang dikritisi orang-orang adalah draft dari pembuktiannya.
Kita lihat saja nanti, tapi sepertinya sulit buat Deolalikar untuk mendapatkan hadiah $ 1 juta. Walaupun demikian tetap usahanya patut dihargai, dan mungkin akan menambah insight yang dibutuhkan untuk akhirnya memecahkan masalah P=NP
Ini sekedar kliping catatan apa yang terjadi di dunia ilmu komputer teoritis belakangan ini. Sedang heboh dengan beredarnya draft pembuktian bahwa P != NP yang dibuat oleh Vinay Deolalikar, seorang peneliti di lab HP.
Draft ini beredar di jagad maya, tanpa sebelumnya dipublikasikan di jurnal ilmiah. Tapi perhatian yang diperoleh dan antusiasme terhadap usaha pembuktian ini sangat besar. Barangkali review, kritik, masukan yang diperoleh oleh pak Deolalikar akan lebih besar dengan cara seperti sekarang ini ketimbang kalau dia mencoba untuk mempublikasikan pembuktiannya di jurnal ilmiah.
Saat ini sedang ramai-ramai para pakar mencoba memeriksa pembuktian ini. Bisa diikuti di wiki berikut, argumen-argumen dari para pakar yang membaca artikel ini.
Salah seorang pakar quantum computing, Scott Aaronson menawarkan hadiah tambahan $200.000 disamping hadiah $ 1 juta dari Millenium Prize seandainya pembuktian ini benar.
Gara-gara membaca blognya pak Scott ini saya jadi tertarik melihat-lihat apa saja yang sudah beliau lakukan. Sepertinya, pembuktian P != NP ini, menurut feeling saya nanti akhirnya akan datang dari Quantum Computing.
Kok bisa ? Penjelasannya bisa melihat dari posting blog menarik dari Dick Lipton, professor di Georgia Tech. Di situ dia menjelaskan, bahwa walaupun quantum computer masih sulit untuk dibuat, tapi metoda pembuktian yang berkembang di sana bisa diaplikasikan ke dunia teori komputasi klasik.
Dengan analogi seperti teori probabilitas yang dikembangkan Paul Erdos, menjadi senjata utama yang dipakai para ahli teori kompleksitas dan kombinatorial dalam ilmu komputer. Metoda dalam komputasi Quantum juga akan memberikan kontribusi dalam dunia komputasi teoritis.
Sekarang masih pada tahap awal, silahkan lihat paper yang dibuat oleh Ronald de Wolf, salah seorang pakar quantum computing di CWI Amsterdam, tentang bagaimana Quantum Computing berkontribusi memberi sudut pandang baru dalam permasalahan klasik di teori ilmu komputer.
Ok, satu hal lucu yang ditemukan dalam paper yang ditulis Ronald de Wolf adalah bahwa paper tersebut terinspirasi dari posting blognya Dick Lipton ! Ha !. Sekali lagi, apa yang beredar di jagad dunia maya ini tidak semuanya berlalu tanpa arti.
Blog post, baik yang pertama menyebar pembuktian Deolalikar, maupun postingnya Dick Lipton yang membuat lahirnya paper Ronald De Wolf tentang kontribusi Quantum Computing ini sudah menjadi bukti yang cukup. Bahwa tidak selamanya keluyuran di dunia maya ini tidak ada hasilnya :)).
p.s: Banyak yang bilang kuliahnya Scott Aaronson ini sangat baik untuk mereka yang berlatar belakang ilmu komputer dan kebetulan tertarik mempelajari Quantum Computing.
Formulanya sederhana :
Kalau s = 1, ini menjadi deret harmonis, yang mungkin sudah dikenal oleh anak SMP.
Kalau s = 2, juga ini katanya sudah ada solusinya, yang bisa jadi bahan cerita sendiri karena Euler menyelesaikannya dengan elegan :
So far so good, gak ada masalah di sini, tidak terlalu menakutkan. Walaupun sebenarnya ada yang menarik dari dua persamaan diatas. Lihat, waktu s=1 infinite, hasilnya tak hingga, waktu s=2 jadi finite. Kok bisa ?
Kalau tertarik, silahkan baca-baca ini hasil keisengan Euler. Dia mengutak-atik dan rasanya memberikan penjelasan bagian mana yang membuatnya deret pertama menjadi infinite.
Kalau saya tidak salah, yang menjadi membuat heboh sebenarnya adalah karakteristik functional equation dari persamaan Riemann Zeta Function di atas. Persamaan fungsi nya sendiri maksudnya adalah persamaan di atas ditulis kembali, tapi si fungsi nya sendiri bebas sekarang bisa ada di kiri kanan persamaan.
Jadi semacam persamaan tentang fungsi, haiyah, udah jelas namanya functional equation. Wis sak karepku, wong ini catetanku sendiri, salahmu sendiri kesini.
Functional equationnya seperti apa ? Hubungannya dengan Riemann Hipotesis yang terkenal itu apa ? Kita tunggu di episode berikut kalau penulisnya sudah sempat baca.
Catatan lagi, baca aja dari sini lah.
|
Posts
|
Setelah natal terpanas sejak 1974 yang sampai 12 derajat celcius, akhirnya musim dingin datang juga; hari ini minus dua derajat.
For the real question is whether the brighter future is really always so distant. What if, on the contrary, it has been here for a long time already, and only our own blindness and weakness has prevented us from seeing it around us and within us, and kept us from developing it?
-The Power of the Powerless Vaclav Havel 5 Oct 1936 - 18 Dec 2011
Peter Naur on Research Project:
To this is added in recent years the commercialization of science in the form of what is called research projects. Such projects are financed on the basis of, not results, but plans. Those who grant the money and those who receive it have a common interest in defending the projects, whether or not they build upon nonsense, and the more costly the project the greater the defence interest. Disclosure of nonsense in this context thus becomes a subversive activity, in which only those can allow themselves to engage who have given up their chance of getting access to research money. Thus in research contexts nonsense thrives practically unabated.
Reminded me of Emperor’s new transparent clothes.
When the important task seems to be daunting, fiddling around with petty task makes you feels busy makes you think that you are doing something. While actually you are not doing anything.
Trying to post using this tumblr.vim is an example of fiddling around instead of trying to post something meaningful.
Obviously the last post was written in a good mood. And this one, not so much. Sometimes there are nothing interesting enough to let you into the flow.
Stale water tasted funny, not enough air in it to make it feel fresh. Perhaps it needs to be cleaned of algae, and breathed with fresh air.
I don’t force myself to do things.
I don’t like to push myself to do things.
The trick is to let these “things” pull you.
Clearly visualize how these “things” will be in the future.
When “it” is interesting enough and excites you,
“It” will pull you there.
No need to force your self or to push.
Hidup akan terasa indah, seandainya kita bisa mensyukuri apa yang ada. Bagaimana cara mensyukuri apa yang ada? Cara termudah adalah dengan menghargainya.
Badan yang sehat, pikiran yang jernih dan jiwa yang tenang adalah anugrah yang utama. Ketiganya bisa dianggap sebagai sistem yang menerima masukan dan memberikan keluaran.
Menghargai badan yang sehat bisa dilakukan dengan merawat kondisinya. Memperhatikan makanan yang masuk dan aktivitas yang dilakukan.
Menghargai pikiran yang jernih bisa dilakukan dengan memperhatikan apa yang kita dengar, baca dan bayangkan serta apa yang kita ucap, tulis dan yakini.
Menghargai jiwa yang tenang bisa dilakukan dengan menjaga keselarasan antara apa yang diyakini, dengan apa yang dijalani.
Semua ini hanyalah hal-hal sederhana. Semua orang tahu, tapi tidak banyak yang mencoba untuk menjalani.
Maafkanlah, jangan kau tumpukan kekecewaan.
Terutama saat beban harapmu yang tinggi,
satu-satunya kesalahan yang membuatmu kecewa.
Beban harapan itu tidak pernah dia minta.
Beban harapan itu tidak harus dia tanggung.
Beban harapain itu tidak perlu dia jawab.
Semua itu kau letakkan pada pundaknya.
Mungkin, tanpa dia pernah menyadari.
Don’t ask me how long it took me to finish this 1000 piece puzzle.
It was just a way for me to convince myself that persistence works.
Mengalir, ketika anda berada di tengah arus kencang, mungkin hanya satu-satunya kemungkinan yang bisa anda lakukan.
Tapi ketika anda berada di tengah danau yang tenang, mau tidak mau anda harus berenang.
Kecuali anda memang hanya ingin diam.
Mengambang.
Mencoba mengerjakan sesuatu, mentok.
Sebentar tak cari selingan dulu.
Selingannya menyita perhatian,
Perhatiannya pun kemudian bercabang.
Banyak hal baru terpampang
Sampai masalah utama terlupakan
Sejenak kemudian teringat lagi.
Bahwa sedang mencoba mengerjakan sesuatu.
Mencoba mengerjakan sesuatu, mentok.
Sebentar tak cari selingan dulu.
Ad nauseaum.
Purple lilac symbolizes “first emotion of love” in the language of flowers. It is also listed as flower gift for 8th year of marriage. Perhaps after going through the troublesome seventh year, it is time to remember how the first emotion of love feels. I am fine with this interpretation, as long as the feeling is toward the same person as it was 8 years ago.
Happy anniversary :)
@illustration from Wikipedia
Apa yang bisa membuat orang melakukan tindakan biadab, sampai-sampai orang matipun masih digebugi ?
Mereka yakin dengan tindakannya karena jemaah Ahmadiyah yang dianggap sudah menodai agama. Tapi mengapa agama perlu disucikan dari noda dengan cara menggebugi orang sampai mati ? Agama yang hendak disucikan dari noda itulah yang akhirnya ternodai oleh para pembelanya.
Membela kesucian agama dengan melakukan tindakan biadab ini bisa menjadi awal lingkaran setan. Tindakan biadab yang mereka buat bisa menjadi justifikasi dari tindakan yang lebih biadab, saat ada yang merasa perlu ‘mengadili’ mereka, sebagaimana mereka telah ‘mengadili’ Jemaah Ahmadiyah.
Why you should be careful when politicians are telling you that you are under attack, your youth lack of patriotism or that your country is in danger.
The trouble with the world is that the stupid are cocksure and the intelligent are full of doubt.~B. Russell.
Keraguan sering menjadi pertanda kelemahan. Si peragu lambat dalam mengambil keputusan. Sementara yang lain sudah sampai babak akhir dan kesimpulan, si Peragu masih tampak bingung memahami permasalahan.
Tapi apakah benar meragukan pendapat orang sedunia adalah kelemahan ? Belum tentu. Tanpa keraguan bisa dijamin kemajuan akan berhenti. Waktu bumi masih jadi pusat dunia, matahari memutari bumi adalah harga mati. Harus ada Copernicus dan Galileo yang berani mempertanyakan kembali.
Rene Descartes terkenal dengan Method of Doubt nya dalam meragukan kembali segala sesuatu yang sudah dianggap harga mati dan tidak perlu didiskusikan lagi.
Hati-hati dengan segala luapan emosional yang berteriak sesuatu adalah harga mati. Siapa tahu masih ada yang dengan jernih bisa didiskusikan lagi.
The Rabbit will have found the momentum during 2010 quite unsettling, little realizing that his accomplishments during the year will set him up beautifully for his own year in 2011. This will be a stunning and most favorable year for him, especially in regard to work and career.
His ability to interact with others will put him in the lead for any promotions at work. Also, if the Rabbit is considering a completely different career, this is the perfect time to explore his options. Not only will the change energize him but he will feel happier than he has done in some time. March to May and October to November will be important times for career developments.
Finances during the Rabbit’s own year are buzzing, with his luck running high! He may see a salary increase, receive a gift or make extra money from a hobby or entrepreneurial idea. Socially, August, September and December will be hectic! Single Rabbits could meet their significant other this year and the relationship could move very fast.
Those with partners will find their relationship becomes more serious and important. Stress and worry over decisions may drain the Rabbit’s vitality during 2011 and it’s very important he gets enough rest and relaxation. He must also remember to call on friends and loved ones for support and advice during any challenging times.
We have to be an idealist in a way because we would wound up as true realist.
If we take man as he is we make him worse, but if we take man as he should be, we make him capable of becaming what he can be.
Search for meaning Victor Frankl (via yecto)
Lalat yang terjebak dalam ruangan.
Berkali-kali menabrak kaca yang bening.
Padahal jendela terbuka lebar di sampingnya.
Akhirnya ia menemukan jalan keluar.
Membawa dengung getar sayap yang mengganggu.
Mengembalikan ketenangan ruang batin.
Mencoba terbang menembus dinding masa depan.
Sambil mendengungkan getar kekhawatiran.
Akan apa yang mungkin dan belum tentu terjadi.
Akan terasa meletihkan, seperti lalat tadi.
Lebih baik mencoba mencari jendela masa kini.
Yang terbuka, dan jelas bisa dinikmati.
Setelah belasan tahun bersahabat dengan seorang teman lama, akhirnya saya memutuskan untuk berkenalan dengan yang lain.
Rasanya seperti selingkuh dengan pasangan yang sudah menemani 15 tahun terakhir.
Atau barangkali menjadi muallaf yang mencoba menganut ajaran baru yang selama ini asing.
Mungkin sudah terlambat karena saya sudah terlalu tua untuk belajar sesuatu yang baru.
Atau mungkin saya malah bisa mengaku belum tua karena masih mau belajar sesuatu yang baru ?
posted using tumble-text-from-buffer :-)
|
Posts
|
Indeks persepsi korupsi Indonesia (corruption perception index) berubah dari 2.8 ke 3.0. Lumayan, paling tidak membaik. Yang penting hari ini tidak lebih buruk dari kemarin.
Tapi ini artinya apa ? Iseng mencoba memahami angka ini, saya nyasar ke metodologi yang digunakan untuk menentukan nilai CPI ini. Ada banyak faktor yang digunakan, tapi salah satu cara mendapatkan angka tersebut adalah dengan mengukur response para pakar di negara yang bersangkutan terhadap pertanyaan berikut:
To what extent are there legal or political penalties for officeholders who abuse their positions?
To what extent can the government successfully contain corruption?
Perubahan dari 2.8 ke 3 ini berarti di Indonesia terjadi hal berikut.
Dari pertanyaan pertama, tentang seberapa jauh adanya konsekuensi politis dan legal terhadap para koruptor. Tahun lalu para koruptor masih berani melakukan korupsi seenak udelnya tanpa takut konsekuensi dan publikasi, sekarang, walaupun mereka masih belum dihukum secara layak, tapi sudah mulai banyak publikasi negatif tentang kelakuan mereka.
Dari pertanyaan ke dua, mestinya ada perbaikan dari sisi pemerintah tidak lagi terlalu banyak dipengaruhi kepentingan individual/privat. Sudah mulai ada integritas, tapi masih setengah-setengah.
Jadi kalau dilihat publikasi negatif bahwa ternyata masih banyak koruptor seperti Gayus, ada 1800 ekor lagi binatang macam dia yang harus ditangkap ? Ya wajar saja, menurut CPI sekarang yang 3, publikasi seperti ini akan makin sering, dan binatang-binatang itu akan makin terpojok.
Semoga mereka makin langka dan akhirnya punah.
90% kunjungan anggota DPR ke luar negeri tidak bermanfaat.
Ini bukanlah rahasia negara, ini hanya fakta yang sudah diketahui masyarakat umum. Sudah berkali-kali PPI di Eropa menolak kunjungan DPR di musim panas saat lembaga negara Eropa sedang reses. Dari 143 kunjungan ke luar negeri hanya ada 3 laporan kunjungan yang dibuat,
Kalau laporan saja tidak ada, jangan harap ada hasil yang nyata. Kalau dibuat prosentase hanya 3% yang bermanfaat karena paling tidak menghasilkan laporan; sementara yang 97% sisanya tidak ada gunanya. Ketika fakta ini diungkapkan kembali secara terang-terangan oleh dubes Swiss Djoko Susilo, timbul masalah.
Bang Djuki, menganggap bahwa Djoko yang “jauh di bawah levelnya, dan ngga tahu persis DPR kerja DPR apa saja” (tapi lebih tahu DPR jalan-jalan ke mana saja), perlu ditindak karena sudah dianggap melecehkan DPR.
Priyo Budi Santoso, langsung terbuka matanya bahwa kedutaan besar Indonesia di luar negeri tidak “berbunyi” sehingga dianggap tidak bermanfaat. Bahkan ada ancaman, kalau duta besar lain di Eropa sependapat dengan Djoko Susilo DPR akan mengkaji seluruh duta besar tersebut.
Menurut saya masalahnya bukanlah karena fakta yang diungkapkan Djoko Susilo ini tidak akurat. Tapi masalah utamanya adalah karena objek yang dikritik, seperti kata almarhum Gus Dur, masih belum bisa bersikap lebih dewasa dari anak-anak TK.
Anak-anak TK, sudah mulai menyadari bahwa mereka tidak selalu benar. Bahwa ketika mereka dikritik dan diberitahu tentang kesalahannya, mereka lebih baik mencoba memperbaiki diri daripada mengancam balik, melepas tantrum dan murka mengancam semua yang mengritik mereka.
Bagaimana tidak seperti anak TK, diingatkan bahwa studi banding DPR sebagian besar tidak ada gunanya dan hanya merupakan pemborosan, malah mengancam balik dubes-dubes di Eropa. Runyam kalau begini terus, kira-kira kapan ya bisa punya anggota DPR yang lebih baik dari segerombolan anak TK ?
Interview dari Al Jazeera berikut ini mengatakan bahwa ada upaya untuk membongkar SBY dengan memanfaatkan Islam garis keras. Bukti dari upaya ini diperoleh dari pernyataan pimpinan Gerakan Reformasi Islam, dan pengakuan dari beberapa Jenderal. Para jendral sudah muak dengan kebohongan-kebohongan katanya, SBY terlalu lemah, dan reformis. Sudah mencoba melalui jalan korupsi, tapi gagal, sekarang menuntut lewat Ahmadiyah.
Para jendral bilang Ahmadiyah harus dibubarkan kalau tidak nanti SBY kita turunkan. Ada situs yang menggambarkan susunan kabinet yang akan diajukan, dimana di dalam rancangan kabinet ini ada jendral TS yang memang sudah terkenal ambisius. Semua sepertinya klop dan bisa dimengerti, fakta yang ada saling mendukung untuk kesimpulan adanya usaha untuk mendongkel SBY.
Entah kenapa saya merasa ada yang tidak pas dengan rangkaian kejadian ini. Kenapa ? Coba saya deskripsikan kembali inti dari apa yang saya tangkap dari interview tadi:
1. Ada sekelompok Jendral-Jendral (JJ) yang ingin menjatuhkan SBY.
2. JJ menghubungi dan mendukung Islam Garis Keras (IGK).
3. IGK menuntut Ahmadiyah dibubarkan.
4. SBY tidak ingin Ahmadiyah dibubarkan.
5. SBY bertentangan dengan IGK (3,4) dengan demikian juga dengan JJ.
6. JJ akan menggunakan pertentangan 5 ini untuk menurunkan SBY.
Kenapa ada yang rasanya belum klop. Sebenarnya mulai dari point 1 sampai dengan point 5 masih tidak ada masalah. Faktanya ada, dan Al Jazeera sudah menurunkan bukti-bukti yang mendukung. Tapi sampai ke point 6, mulai terasa agak ajaib. Menurunkan SBY karena SBY tidak mau membubarkan Ahmadiyah ? Yang bener aje.
Ada prasayarat yang sulit dipenuhi, revolusi untuk menurunkan rezim yang berkuasa butuh dukungan rakyat banyak. Rakyat banyak baru akan bisa mendukung kalau semua sepakat bahwa rezim yg ada sudah melakukan kesalahan fatal. Kesalahan fatal ini bisa berupa korupsi yang nyata terbukti atau penyalah gunaan jabatan yang keliwatan, atau mungkin hal lain yang nyata-nyata salah secara mendasar.
Tapi apakah alasan melindungi Ahmadiyah merupakan kesalahan yang cukup fatal? Benarkah ini kesalahan yang akan mendapat dukungan mayoritas rakyat Indonesia ?
Setelah pembantaian di Cikeusik, setelah keresahan masyarakat akan bom buku, siapa yang akan didukung oleh masyarakat :
A. Jendral dan garis keras yang mendukung pembantaian dan sepakat dengan pengirim bom ?
B. Atau pihak yang melindungi komunitas yang terbantai, dan partai yang anggotanya menjadi target bom buku ?
Menurut saya jawabannya B.
Ketika dunia internasional semakin memojokkan Islam, ketika masyarakat Indonesia muak dengan kekerasan yang terjadi di Cikeusik, ketika warga ibukota resah dengan ancaman bom buku, memulai suatu revolusi dengan memihak kepada Islam garis keras yang diduga menjadi sumber keresahan bukanlah tindakan yang bisa diterima akal sehat. Jadi bagaimana saya harus memahami ini semua ?
Entahlah, barangkali para jendral itu tidak serius akan melakukan revolusi. Bukannya mendongkel, mereka mungkin akhirnya hanya akan membuat SBY dan partai Demokrat yang anggotanya terancam bom menjadi lebih populer.
Saya sedang penasaran dengan Permenkominfo No. 11/PER/M.KOMINFO/020/2006 tentang Teknis Penyadapan Informasi. Sebenarnya isinya seperti apa ?
Mengingat UU KPK dan undang-undang lain yang lebih tinggi tidak merinci secara detail teknis penyadapan, Permen inilah yang menjadi landasan hukum KPK dalam melakukan penyadapan selama beberapa tahun belakangan ini.
Barangkali ada yang bisa membantu memberikan naskah lengkapnya ? Google sana sini dan mencari-cari di situs Hukum Online belum membuahkan hasil. Lucunya ternyata dua tahun lalu Hukum Online juga berusaha mengusut keberadaan Permen ini tanpa hasil.
Sayang, hingga berita ini diturunkan Permenkominfo yang dimaksud tanpa alasan yang jelas sulit diperoleh. Penelusuran hukumonline baik melalui situs resmi KPK dan Depkominfo maupun melalui kantor resmi kedua instansi memperoleh hasil nihil.
Ini saya ketahui setelah melihat lihat cache (untung ada google) artikel di sana dan menemukan beberapa artikel menarik :
Beberapa hal yang bisa saya garis bawahi dari artikel-artikel menarik di atas :
Saya tidak sedang mempertanyakan Mahkamah Konstitusi yang menilai RPP Menkominfo inkonstitusional. Apalagi menyanggah Bung Ajo yang mempunyai alasan kuat untuk menolak usulan RPP.
Saya manut percaya, bahwa memang RPP ini melanggar struktur perundangan dan inkonstitusional. Jadi biarkan saja KPK menggunakan Permen yang buat saya masih tidak jelas keberadaannya ini.
Apa saya sedang bersimpati dengan para koruptor dan ingin ikut memperlemah KPK ? Tidak. Jangan sampai kinerja KPK terhambat gara-gara RPP ini. Harapan saya semoga ada middle ground yang akhirnya akan bisa ditemukan.
Bagian yang jelas-jelas menghambat kinerja KPK memang perlu ditolak. Seperti keperluan persetujuan dari pengadilan negeri yang ada di pasal 3 c,d RPP itu.
Bagian lain yang memperjelas teknis penyadapan, misalnya memberikan batasan jangka waktu penyadapan. Atau kewajiban menjaga kerahasiaan informasi seandainya yang disadap tidak terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Menurut saya teknis pengaturan masalah ini tetap diperlukan. Saya tidak menemukan alasan yang cukup kuat untuk menolak bagian-bagian tersebut.
Apalagi mengingat selama ini semua itu dijalankan berdasarkan Permen ajaib yang tidak jelas keberadaannya. Kecuali ada yang bisa membantu memberitahu dokumennya seperti apa ?
Lama saya tidak ikut merusuh di Politikana. Sejak beberapa saat lalu merasa agak tidak nyaman dan menemukan tempat lain yang lebih nyaman untuk merusuh. Ternyata dari beberapa artikel belakangan ini yang isinya membahas topik yang itu-itu lagi, dan tokoh yang itu-itu juga, suasana terasa semakin tidak nyaman.
Mimbar Politikana yang dibuka oleh pengurusnya demi kebebasan berekspresi dan pembelajaran politik. Ternyata kebebasan ini dimanfaatkan sepenuhnya bahkan oleh pihak-pihak yang anti demokrasi, anti kebebasan berpendapat, dan masih tidak percaya bahwa bumi mengelilingi matahari karena tidak ada dalilnya.
Saya merasa tidak nyaman, bahkan malu untuk berdebat dengan orang yang masih meragukan apa yang sudah tidak diperdebatkan lagi ratusan tahun lalu. Tapi kadang saya masih ingin mampir ke sini untuk membaca artikel-artikel yang masih waras.
Menghindari artikel ajaib gampang, karena dari judul dan pengarangnya sering sudah terlihat yang mana yang perlu atau tidak untuk dibaca (call me prejudiced, I don’t care, I want a peace of mind). Tapi untuk menghindari komentar yang aneh, tidak baik untuk kesehatan jiwa kalau dibaca, direnungkan apalagi diperdebatkan ? Agak sulit.
Pernah dengar greasemonkey ? Add ons firefox yang memungkinkan orang untuk mengubah tampilan situs dari sisi klien/browser. Apa yang ada di situs tidak berubah, tapi add-on ini memungkinkan preprocessing, filtering dan perubahan layout dari situs yang akan anda baca.
Akhirnya setelah melihat-lihat sekilas tutorial dan contoh script di userscript.org, saya iseng menulis sekitar 20 baris script sederhana untuk melindungi kenyamanan saya membaca Politikana dari komentar orang yang menurut saya mengganggu. Scriptnya ada di sini. Setelah anda menginstall add ons greasemonkey, anda bisa menginstall script itu.
Silahkan di coba, kalau ada yang familiar coding dengan javascript/greasemonkey tolong bantu untuk memperbaiki script itu. Karena sekarang ini setiap ada tambahan tokoh baru yang mengganggu, saya harus menambahkan link profil politikana ke tokoh tersebut dalam script tadi.
Barangkali bisa membantu anda. Politikana tidak berhak untuk mengekang kebebasan berpendapat, tapi user, saya dan anda berhak untuk memilih, mana yang akan kita lihat dan mana yang akan kita abaikan.
Kontroversi aturan penyadapan Cicak ini terlupakan sejenak, tertutup hingar bingar Cicak versus Buaya yang berakhir dengan anti klimaks. Berakhir dengan Tancep Kayon, kata Putu Setia, layar drama ditutup, penonton dipersilahkan bubar dan membuat kesimpulan masing-masing. Drama politik nasional kembali ke adegan yang dulu belum rampung dipentaskan, geger Bank Century.
Minggu lalu, saya sekilas diingatkan kembali tentang aturan ini saat membaca berita di Tempo bahwa Menkominfo berupaya untuk menguasai wewenang penyadapan. Eh itu katanya Tempo lho ya di kalimat pertama artikel tersebut. Pak Mentrinya sendiri kalau ditanya paling bilang sedang menyiapkan peraturan pemerintah mengenai prosedur penyadapan. Peraturan pemerintah ini nanti merujuk kepada UU No. 11 2008, alias UU ITE.
Mengikuti model di Australia dan Korea Selatan dimana penyadapan dilakukan oleh mentri komunikasi, maka maunya pak Mentri, penyadapan informasi mesti berkoordinasi dengan departemen komunikasi setelah mendapat perintah pengadilan. Keinginan untuk menguasai dan mengendalikan wewenang penyadapan ini kemudian diduga sebagai bagian dari langkah sistematis untuk melemahkan KPK. Sejalan dengan usaha parlemen yang berusaha membatasi kewenangan KPK saat menyusun UU Tipikor beberapa waktu lalu.
Apa iya ini merupakan usaha pelemahan wewenang KPK ? Bisa jadi. Bisa juga tidak, karena menurut saya sebenarnya wewenang penyadapan KPK pun tidak terlalu kuat. Ada celah bentuk komunikasi yang bisa dimanfaatkan oleh para koruptor untuk menghindari penyadapan cicak. Satu titik di mana UU KPK tidak memberikan wewenang sepenuhnya pada KPK untuk melakukan penyadapan. Celah yang mana yang saya maksud ?
Mengacu ke UU No. 30/2002 wewenang KPK untuk melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan memang tidak dibatasi. Tidak perlu prasyarat keputusan pengadilan ataupun apapun, untuk memulai penyadapan dan perekaman pembicaraan per telepon, ataupun barangkali komunikasi elektronik. Tapi bagaimana dengan komunikasi yang bukan telepon, dan bukan komunikasi elektronik ? Bagaimana dengan komunikasi via surat menyurat tradisional ?
Pasal 38 UU KPK No. 2002, dan penjelasan ayat 1 mengatakan bahwa untuk masalah penggeledahan, penyitaan, pemeriksaan surat tradisional ini KPK merujuk ke KUHAP (UU no 8/1981). Saya pernah bahas di artikel yang saya posting di Politikana pada bulan Juli. Tidak perlu saya tulis ulang di sini, singkatnya untuk kasus surat menyurat ini KPK butuh persetujuan pengadilan negeri.
Ada kewajiban untuk memberi tahu pihak yang suratnya dibuka bahwa surat mereka telah diperiksa. Bila ternyata surat itu tidak ada hubungan dengan perkara penyidikan, surat tersebut harus ditandai, bahwa surat tersebut telah dibuka oleh penyidik. Ada kewajiban untuk merahasiakan hasil pemeriksaan surat, sehingga tidak bisa sesuka hati dibuka untuk publik. Wewenang KPK dalam hal surat menyurat ini lebih terbatas daripada penyadapan per telepon.
Jadi bagi para koruptor, markus, politisi dan pejabat busuk yang hendak melakukan suap menyuap, peras memeras, berhubungan sajalah lewat surat tradisional. Tulis tangan saja, kesepakatan berapa mesti bayar supaya kasus lancar, kemudian kirim surat itu lewat kurir. Karena tangan dan pendengaran cicak dalam hal ini masih terbatas dibanding dengan kewenangan mereka menyadap komunikasi per telepon.
Baik telepon, email, ataupun surat tradisional menurut saya adalah bentuk komunikasi. Penyadapan, penggeledahan, pemeriksaan, sama-sama merupakan metode untuk membuka komunikasi privat demi kepentingan penyidikan/ penyelidikan. Saat perlakuan hukum terhadap dua metode komunikasi ini berbeda, selain menjadi peluang buat para koruptor, ini jadi pertanyaan buat saya. Sebenarnya perlakukan yang mana yang lebih tepat ?
Iseng saja, mungkin saya mau pindah ke Wongiseng.co.cc yang menggunakan hosting gratisan dari 000a.biz. Masih belum yakin sepenuhnya akan pindah ke sana, tapi sekarang sedang mencoba belajar mengurus domain sendiri, install wp sendiri dan memaintain plugin di sana.
Iseng-iseng yang beresiko karena sewaktu-waktu hosting gratisan itu bisa hilang begitu saja di telan bumi Kalau sampai itu terjadi, kira-kira ya paling saya fall back, kembali ke sini. Di sini lebih terjamin, semua sudah di sediakan dan lebih aman. Di sana bebas mau ngapain aja, termasuk mesti bebas dengan rajin membuat backup sendiri mysql dan files yang sudah di upload di sana, karena tidak ada jaminan hosting itu akan hidup terus. Tapi namanya juga iseng, harap maklum.
Barangkali kalau ada yang mau memberi masukan sebaiknya bagaimana, I am listening. Saya masih mikir antara total gratisan seperti di atas, setengah gratisan di sini (upgrade beli domain tapi hosting tetep gratis di sini jadi seperti Unspun, atau setengah gratisan di sana (hosting tetep gratis, tapi nyari domain sendiri bukan di Co.CC, toh di sana taun depan harus bayar, atau kemungkinan ke empat, hosting dan domain yang beneran bayar sendiri.
Cuman namanya iseng agak mikir dua kali kalau mesti serius. Kalau domain dan hosting saya bayar sendiri, apa ya masih bisa di bilang iseng ? he..he..he.. Saya sudah nggeremeng kepanjangan di sana, jadi sepertinya tidak perlu di tulis lagi di sini .
Ya wis itu saja, update singkat (seolah-olah blog ini ada yang baca). Sekaligus penjelasan kenapa berapa lama ini males posting, karena waktu luang yang ada jadi kepake untuk mensetup blog gratisan beresiko tapi bebas itu
Anak kecil itu bilang “Mainan mobil-mobilanku ini yang paling hebat di seluruh dunia!”, karena dia sedang senang, baru pertama kali itu dapat mainan mobil yang bisa dikendalikan dari jauh.
Anak tetangga bilang “Sayang mobil mainanmu tidak bisa dipakai off road, rodanya kecil”, karena mobil radio control miliknya beroda besar, bisa offroad dan menggunakan bahan bakar bensin.
Orang yang datang dari kampung bilang : “Wah rumahmu ini rumah megah berdinding bata”, karena dia membandingkan dengan gubugnya yang terbuat dari jerami.
Orang yang datang dari perumahan elit bilang: “Ah rumah mu ini mungil seperti paviliun tukang kebun saya”, karena rumahnya memang sebesar istana.
Mbak-mbak itu bilang “Tulisan mu ini bagus dek, rajin-rajinlah menulis dan belajarlah terus untuk memperbaiki tulisanmu “, karena dia berusaha menginspirasi adek itu untuk terus belajar menulis.
Oom-oom itu bilang “Tulisanmu ini kurang baik dek, karena harusnya tidak begini, dan mestinya begitu “, karena dia punya standard tertentu dan hanya ada sebagian tulisan yang baik, menarik dan bisa dinikmati olehnya.
Your mileage may vary, standard tiap orang berbeda. Setiap orang berhak mengkritisi, menentukan standard mana yang hebat/mana yang kurang, mana yang megah/mana yang mungil, mana yang bagus dan mana yang memprihatinkan.
Pendapat yang disampaikan oleh seorang kritikus atau penikmat terhadap objek yang dikritisi, kadang lebih menceritakan tentang latar belakang sang kritikus. Seperti anak tetangga yang tidak bisa menghargai mobil mainan anak saya, padahal menurut anak saya sebenarnya sudah sangat hebat. Yah bisa dimengerti, karena dia anak tetangga yang kaya dan mainannya lebih jauh bagus.
Kalau memang mau nulis, menulis saja apa adanya to ? Kalau lagi bosan menulis ya istirahatlah. Kalau sempat mikir nulis sendiri hasil inspirasi alangkah indahnya. Kalau mau copas informasi menarik yang layak untuk dibagi, apa salahnya ? Kalau lagi jam kerja gini ya salah, karena mestinya ndak menulis di Ngerumpi tapi kerja. Dasar simbah dodol.
@illustrasi: www.ymmv.co.uk
Suatu malam, sebelum tidur, setelah menonton film yang kebetulan ada spookynya (hantu-hantuan versi londo yang buat orang Indonesia tidak mengerikan sebenarnya). Ada dialog antara seorang anak kecil berumur 5.5 tahun dengan bapaknya yang masih lugu dalam menghadapi anak, tentang ada atau tidaknya Spooky.
Besok paginya sisa dialog ini sepertinya terlintas di pikiran anak kecil itu waktu bicara tentang Tuhan dengan ibunya.
Papa: Tidur ya, udah malem, biar kamu besok ngga kesiangan.
Anak kecil: Aku takut sama spookie, temenin dong pa.P: Kan ngga ada spooky, kamu ngga usah takut.
A: Aku liat di tiviP: Ya itu kan cuman di film kartun, ngga beneran ada, digambar sama orang
A: Tapi aku takut …P: Ndak usah takut, emang kamu pernah liat spooky?
A: Belum pernahP: Pernah denger spookie ngomong
A: Belum pernah ..P: Ya udah ngga usah takut. Ini dino nya diajak tidur aja buat nemenin biar gak takut. Udah ya, tidur sana, nanti Papa nyusul.
Setelah beberapa kali bolak balik nongol lagi dari kamar dan nanya ini itu akhirnya tidur juga. Paginya, setelah sholat subuh samar-samar kedengeran dialog sama ibunya
A: Mama tadi berdoa sama Tuhan ya ?
M: Iya, mama berdoa sama AllahA: Berdoa apa ma ?
M: Minta supaya papa, mama dan kamu sehat dan kamu jadi anak baik.A: Terus apa kata Allah
M: *mikir sebentar melirik papa yang pura pura ngga denger dan langsung jalan pelan-pelan ke dapur* ya mama ngga bisa denger langsung jawaban, tapi Allah ndengerin.A: Aku juga belum pernah denger.
M: *beres-beres mukena dan diem *A: Mama pernah liat Tuhan ?
M: Belum pernah, tapi Dia ada diatas sana.A: Tapi Tuhan ada ya Ma ?
M: Iya ada sayang,*papanya yang denger dialog itu mulai panik, teringat dialog tadi malam*
P: Nak, sini ini liat di komputer ada film dinosaurus *google Triceratops, favorite dia, kebetulan langsung nemu dari discovery*, ada Triceratops berkelahi sama Tyranosaurus (padahal ngga berkelahi ternyata)A: *Langsung tertarik dan lari ke papanya * Mana .. mana …
P: * fiuh …. *
Ternyata ngajarin gimana supaya anak kecil tidak takut spooky tapi percaya bahwa Tuhan itu ada, secara runut logika (tanpa harus menggunakan kata pokoknya) tidak mudah, Kali ada yang bisa membantu. Jauh lebih gampang nerangin tentang Triceratops.
p.s : Aslinya di posting di Ngerumpi sekitar Juli 2009, waktu belum mengaktifkan cross posting ke sini.
Tadi pagi saya baca tulisan inspiratif dari mas Dony, tentang belajar sepeda, belajar kehidupan. Tulisan inspiratif yang membuat saya teringat dengan apa yang saya lakukan sekitar 2 taun lalu. Waktu mencoba mengajari anak saya naik roda dua, transisi dari roda empat. Biasanya memang sebelum naik roda dua, belajar naik roda empat dulu. Sama, saya waktu kecil juga begitu, makanya anak sayapun saya belikan sepeda roda dua.
Waktu anak saya hampir umur 4 taun, saya bertemu seorang teman lama yang tinggal di Jerman. Anaknya seumuran, tapi sudah bisa naik sepeda roda dua. Sementara anak saya masih asik dengan sepeda roda empatnya, dan belum tertarik untuk belajar roda dua.
Saya terkagum-kagum dan nanya, Gimana caranya kok bisa ? Dari umur berapa belajar naik sepeda roda duanya ? Teman saya bilang, belajar roda duanya sebentar kok, yang lama dia pake balance bike, dari umur 2.5 atau 3 taunan. Balance bike ? Opo meneh kuwi ?
Ternyata balance bike itu adalah sepeda seperti yang ada di atas. Tanpa pedal, pendek sehingga kedua kaki si anak masih bisa menyentuh tanah. Sekalian disitu saya kasi link ke situs tempat saya ngambil gambar itu. Keliatan di linknya bahwa itu adalah balance bike, sepeda keseimbangan untuk anak usia 2-3 tahun.
Teman saya bilang sepeda yang seperti ini, lebih baik daripada sepeda roda empat, karena sesuai namanya balance bike, atau trainer wheel ini intinya adalah melatih keseimbangan. Si anak jadinya tidak mengayuh pedal, karena memang ndak ada pedal. Tapi dia menggunakan kedua kakinya yang masih bisa menyentuh tanah untuk meluncurkan balance bike itu. Saat meluncur inilah dia merasakan keseimbangan. Inilah yang yang dibutuhkan untuk mengendarrai sepeda dua.
Belajar keseimbangan ini tidak sempat dirasakan oleh anak yang menggunakan sepeda roda empat. Karena selalu ada penyangga, sehingga si anak akhirnya hanya belajar cara mengayuh sepeda dan mengendalikan stang/arah sepeda, Sementara untuk keseimbangan, akhirnya dia baru belajar setelah mencoba langsung naik sepeda roda dua.
Butuh keberanian, ketabahan, jatuh bangun dan akhirnya menjadi bahan inspirasi kita semua di sini setelah pengalaman itu ditulis oleh bapaknya. Jangan marah ya mas Dony, inspirasinya tetaplah sangat berharga bagi kita semua
Akal-akalan
Karena terlambat mendengar cerita dari teman saya, akhirnya saya mencoba untuk mengakali. Yang ada sekarang roda empat, tapi mestinya dia belajar keseimbangan, Jadi sepeda roda empatnya saya modifikasi sedikit-sedikit. Salah satu diangkat beberapa senti dari tanah, kalau ndak salah bagian kanan.
Jadi kalau dia tetap bersandar pada roda penyangga (sekarang sepedanya jadi tinggal roda 3.5) sepedanya akan miring. Ini tentunya ndak enak buat dia, ngomel-ngomel bocah waktu itu. Tapi saya bilang ya kamu coba jalannya agak cepat supaya sepedanya tegak. Akhirnya bocah ini terpaksa sambil agak ngomel (udah biasa dan tau dia kalo emang bapaknya suka iseng) berjalan agak cepat, Sehingga saat jalan agak cepat ini, sepeda menjadi seimbang dan berjalan stabil seperti mengendarai sepeda roda dua.
Transisi ke roda dua pun akhirnya lebih lancar, keseimbangan dia sudah terlatih, kegamangan meluncur di roda dua sudah hilang. Saya cuman menemani lari-lari sebentar di samping dia waktu dia ganti sepeda roda dua. Malah waktu itu habis dari toko langsung dipake naik sepeda sampe taman di dekat toko sepeda.
Semoga informasinya berguna buat yang punya anak kecil.