Apa yang mem­buat kita bahagia ? Per­tanyaan ini tidak mudah untuk dicari jawaban­nya. Kebahagiaan saya, ber­beda dengan kebahagiaan anda. Apa yang mem­buat saya bahagia belum tentu akan bisa mem­buat anda bahagia. Apakah ada rumusan jawaban atas per­tanyaan yang sangat subjek­tif ini ?

Ter­nyata ada proyek penelitian dari Harvard yang selama puluhan tahun ber­kutat dalam men­cari jawaban atas per­tanyaan yang seper­tinya tidak ilmiah ini.

Mereka men­cari jawaban dengan meng­ikuti per­jalanan kehidupan 268 lulusan Harvard, sejak mereka lulus kuliah di awal tahun 40-an,  melalui masa peperangan, meniti karir, men­jalani kehidupan rumah tangga, memasuki usia senja, bahkan sam­pai akhir hayat mereka. JFK ter­masuk salah satu objek (atau subjek) penelitian ini, sayang dokumen ten­tang beliau baru bisa dibuka pada tahun 2040.

Saya akan men­coba mem­buat high­lights dan catatan hal menarik yang saya temukan dalam artikel ter­sebut. Kalau sem­pat sebaik­nya baca sen­diri artikel­nya, karena jauh lebih leng­kap. Bahkan sam­pai latar belakang psikologis dan kehidupan penelitinya pun dibahas  ;)


Glim­pse at any moment in life can be misleading

Seperti mem­baca sekum­pulan novel yang ber­dasarkan pada kisah kehidupan nyata, mem­baca catatan-catatan per­jalanan kehidupan yang ter­kum­pul dalam penelitian ini, banyak hal tak ter­duga yang akhir­nya terungkap.

Seseorang dengan latar belakang yang bahagia, lulus dengan nilai yang baik, meniti karir yang mapan, pada suatu titik bisa ber­balik jalan hidup­nya (lihat Case 141: What hap­pened to you?).

Semen­tara yang masa kecil­nya penuh kesedihan, diabaikan orang tua, beberapa kali men­coba untuk bunuh diri ter­nyata dalam per­tengahan hidup­nya men­dapatkan pen­cerahan hingga akhir­nya men­jalani kehidupan yang baik dan bisa masuk dalam kategori bahagia.

This means that a glim­pse of any one moment in a life can be deeply mis­leading. A man at 20 who appears the model of altruism may turn out to be a kind of emotio­nal prodigy—or he may be duc­king the kind of engagement with reality that his peers are both moving toward and defen­ding against. And, on the other extreme, a man at 20 who appears impos­sibly woun­ded may turn out to be ges­tating toward maturity.


Heal­thy Aging Predictor

Bagian ini saya hanya akan meng­garis­bawahi beberapa kebiasaan dan karak­teris­tik  seseorang yang bisa dijadikan indikator apakah orang ter­sebut akan bisa men­capai masa tua dalam keadaan sehat wal afiat :

Employing mature adap­tations was one. The others were educationstable mar­riagenot smoking, not abusing alcohol, some exer­cise, and heal­thy weight. Of the 106 Harvard men who had five or six of these factors in their favor at age 50, half ended up at 80 as what Vaillant called “happy-well” and only 7.5 per­cent as “sad-sick.”

Meanwhile, of the men who had three or fewer of the health factors at age 50, none ended up “happy-well” at 80. Even if they had been in adequate physical shape at 50, the men who had three or fewer protective factors were three times as likely to be dead at 80 as those with four or more factors.

The predictive impor­tance of childhood tem­perament also diminishes over time: shy, anxious kids tend to do poorly in young adul­thood, but by age 70, are just as likely as the outgoing kids to be “happy-well.” Vaillant sums up: “If you follow lives long enough, the risk factors for heal­thy life adjus­tment change. There is an age to watch your choles­terol and an age to ignore it.”

The study has yielded some additio­nal subtle surp­rises. Regular exer­cise in college predicted late-life men­tal health bet­ter than it did physical health. And dep­res­sion tur­ned out to be a major drain on physical health: of the men who were diag­nosed with dep­res­sion by age 50, more than 70 per­cent had died or were chronically ill by 63. More broadly, pes­simists seemed to suffer physically in com­parison with optimists, per­haps because they’re less likely to con­nect with others or care for themselves.


Grant study ini tidak bisa digeneralisir, karena yang diteliti orang-orang kaya lulusan Harvard. Hasil­nya mung­kin akan ber­beda kalau yang diteliti adalah anak-anak lulusan SMA ter­tentu, yang belum tentu kuliah.

Apakah akhir­nya penelitian puluhan tahun ini bisa merumuskan jawaban per­tanyaan awal ? Kalau sepemahaman saya yang tidak punya bac­kground psikologi, memang ada beberapa indikator yang bisa mem­bantu untuk menen­tukan apakah seseorang akan merasa bahagia, sehat wal afiat sam­pai tua.

Tapi tetap tidak ada kesim­pulan atau for­mula ajaib yang bisa menen­tukan apakah seseorang kelak akan bahagia sam­pai akhir hidup­nya. Jalani sajalah, ndak usah dipikirin :)

Bookmark and Share
Written on February 4th, 2010 & filed under Iseng, Reflection Tags: , ,
LEAVE A COMMENT
Comment
CommentLuv Enabled
 
COMMENTS
    kucing_usil commented

    indikator yang paling sulit untuk menua dengan sehat wal’afiat adalah : stable mar­riage :lol:

    dunia barat seper­tinya cen­derung suka merumuskan dan men­jadikan semua hal men­jadi logis sam­pai diteliti segala rumusan untuk bahagia dan sehat wal’afiat hingga lan­jut usia *pose mikir*

    Niat banget emang mereka, ujung-ujungnya tetep bingung. Kayanya buat saya yg paling berat not smoking sama heal­thy weight :D
    ~|wongiseng|~

    February 5, 2010 at 10:23 pm
    clingakclinguk commented

    bahagia, hmmmm.….beda-beda memang tiap orang, buk­tinya ada saja orang yang baru bisa bahagia kalau melihat orang lain men­derita :D

    Mung­kin yang begitu itu orang yang sedang sakit atau men­derita, jadi cari teman :P
    ~|wongiseng|~

    February 9, 2010 at 11:40 am