Barang­kali kebahagiaan semu adalah ter­jemahan yang kurang tepat dari Syn­thetic Hap­piness. Tapi yang dimak­sud di sini adalah kebahagiaan yang dicip­takan seseorang untuk bisa menerima apa yang telah ter­jadi dan tidak dapat diubah lagi dalam hidupnya.

Dan Gill­bert mem­berikan beberapa con­toh kasus orang-orang yang menurut pen­dapat umum harus­nya tidak merasa bahagia, tapi mereka menyatakan sebaliknya.

Moreese Bic­kham, men­jalani hukuman selama 37 tahun dalam pen­jara, atas kejahatan yang tidak dilakukan­nya. Dia dibebaskan pada usia 78 tahun setelah test DNA mem­buk­tikan dia tidak ber­salah. Apa yang dikatakan­nya setelah keluar dari pen­jara ?
“I don’t have one minute’s regret. It was a glorious experience.” .

Pete Best, drum­mer per­tama group the Beat­les yang tidak ikut ter­masyhur karena pada awal per­jalanan band ter­sebut dia digan­tikan oleh Ringo Starr bilang :
“I’m hap­pier than I would have been with the Beatles.”

Harry S. Langerman ber­temu McDonalds ber­saudara di sebuah stand kecil di New York. Mereka menawarkan inves­tasi sebesar $3000 dollar. Harry tidak jadi melakukan inves­tasi karena saudaranya seorang ban­kir meng­atakan :
“You idiot, nobody eats ham­bur­ger”.

Ter­nyata kehilangan kesem­patan men­jadi orang ter­kaya di Amerika pun tidak mem­buat­nya bersedih.

Gom­bal ! Itu reaksi per­tama saya pas men­dengar cerita-cerita ini. Mana mung­kin mereka benar-benar bahagia tanpa menyesali kesem­patan ber­harga yang hilang ?

Pas­tinya yang benar-benar bahagia adalah Ringo Starr yang ikut men­jadi tenar ber­sama the Beat­les, bukan Pete Best. Atau Ray Croc yang menanamkan modal $3000 untuk McDonald ber­saudara dan sem­pat men­jadi orang ter­kaya di Amerika, bukan Harry S. Langerman.

Kebahagiaan Moreese Bic­kham, Pete Best dan Harry S Langerman, pasti hanyalah kebahagiaan semu. Kebahagiaan sin­tetis yang dicip­takan saat orang tidak men­dapatkan apa yang mereka inginkan.


Dan Gill­bert dalam video di atas tidak menyang­kal bahwa kebahagiaan yang mereka rasakan adalah kebahagiaan sin­tetis. Tapi dia men­jelaskan lebih lan­jut bahwa tidak ada yang salah dengan kebahagiaan sin­tetis ini.

Melalui serang­kaian per­cobaan Dan Gill­bert men­jelaskan bahwa manusia punya semacam sis­tem kekebalan psikologis untuk men­sin­tesa kebahagian semu. Men­jadikan mereka lebih bisa menik­mati pilihan foto yang tidak bisa ditukar lagi. Mem­bantu mereka men­jalani pilihan-pilihan yang sudah diam­bil dan tidak bisa diubah lagi.

Semen­tara sebalik­nya, saat subjek dalam per­cobaan Dan Gil­bert diberi kebebasan untuk memilih, aneh­nya kebahagiaan yang mereka rasakan atas pilihan­nya malah lebih ren­dah diban­dingkan dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh teman­nya yang tidak lagi memiliki kebebasan memilih.

Saat masih memiliki kebebasan untuk melakukan pilihan, manusia melakukan proyeksi yang tidak ter­lalu akurat. Bahwa dia hanya akan bahagia bila dia men­dapatkan apa yang benar-benar diingin­kan­nya. Tanpa menyadari bahwa dalam dirinya ada psychological immune sys­tem yang mampu meng­hasilkan kebahagiaan sin­tetis yang tidak kalah canggih.


Ah saya ingat jaman SD waktu chan­nel TV masih ter­batas. Semes­tinya jaman-jaman itu adalah jaman yang menyedihkan karena minim­nya pilihan. Tapi kok ya rasanya cukup menyenangkan, saat tahu semua teman tadi malam sama-sama menon­ton Mr. T dari the A Team, dan bisa mem­bahas bareng aksi mereka.

Anak SD sekarang mung­kin lebih cang­gih, ada yang mem­bahas NGC, Discovery Chan­nel, atau mung­kin malah ada yang sudah sur­fing inter­net dan secara ilegal mem­bahas status Facebook teman-temannya.

Apakah sean­dainya saya dan teman-teman SD dulu bisa melihat ke masa depan, akan iri dan minta ber­tukar tem­pat mereka sekarang ? He..he..he. belum tentu, kemung­kinan besar iya, tapi barang­kali kalaupun iya tidak men­jamin kami akan lebih bahagia daripada waktu itu.

Bookmark and Share
Written on February 5th, 2010 & filed under Inspirasi, Iseng Tags: , ,
LEAVE A COMMENT
Comment
CommentLuv Enabled
 
COMMENTS
    Yohanes Han's commented

    wah.… mbah, baca topik ini saya jadi ingat salah satu guru saya, seorang bikhu ang­gota dari dewan bikhu ripoche, per­nah meng­atakan seperti ini, “apakah sesuatu itu adalah ilusi, apakah sesuatu itu takhayul dan apakah sesuatu itu gam­baran hati selama itu semua men­jadikan dirimu men­jadi ber­beda dan bebas, ber­arti itu adalah suatu kenyataan untukmu.”

    saya mem­butuhkan waktu ber­tahun tahun untuk bisa menerima per­kataan itu, karena bagaimanapun juga itu sangat ber­lawanan dengan ego saya seba­gai orang muda.

    ter­nyata men­jadi orang muda itu selain masih “kuat” tapi juga masih “bodo” ya mbah :P :P :P

    Bertahun-tahun ya ? Sampe sekarang saya juga masih butuh ban­tuan nikotin untuk menerima :P
    ~|wongiseng|~

    February 5, 2010 at 3:46 pm
    mas stein commented

    kata mbah suto segala sesuatu ada jalan­nya sen­diri. siapa tau beat­les ndak akan setenar sekarang kalo make drum­mer yang lama? siapa tau klo ndak dipen­jara ter­nyata bic­kham apes trus kena aids? memang ndak perlu disesali karena pasti ada sesuatu di balik tiap per­is­tiwa. ini katanya ilmu titen mbah, seba­gai sesama sim­bah sam­peyan pasti ngerti :lol:

    Ampuh tenan memang mbah suto :P Orang jawa seper­tinya memang ahli men­sin­tesa kebahagiaan :D
    ~|wongiseng|~

    February 6, 2010 at 1:48 am
    bukan detikcom commented

    Makanya saya suka mikir dengan acara-acara bedah rumah, tukar nasib, dsbnya. Kira-kira orang-orang itu tadinya bahagia ndak sih dengan keadaan­nya? Jangan-jangan setelah di kasih gam­baran di luar keadaan mereka malah jadinya ndak bahagia.

    Semakin banyak pilihan, semakin susah untuk bahagia kayanya :P Tapi entah­lah ada orang yang memang hobi dan bahagia saat sedang milih-milih itu :P
    ~|wongiseng|~

    February 8, 2010 at 8:26 am
    boneth commented

    wah saya jadi balik mikir..
    bahagia saya yang sekarang semu apa real yah??

    ahhh.. klo emang ini semu..
    saya menik­matinya koq..
    jadi misal­nya disuruh tuker tem­pat sama mbah ngas ke luar negri sono, saya tetap memilih disini.. ber­sama suami saya ter­cinta… hehehe
    *ngum­pet dbawah kasur

    Lagi win­ter dingin gini kalau ada yang ngajak tuker tem­pat ting­gal di Indonesia, gak pake mikir, pasti enakan di kam­pung halaman :P
    ~|wongiseng|~

    February 8, 2010 at 1:46 pm
    ridwan commented

    Lebih meng­arah pada manipulasi pikiran? Sejujur­nya, saya masih kesulitan melakukan hal satu ini :D

    Barang­kali manipulasi cara melihat dan meng­har­gai apa yang ada :P
    ~|wongiseng|~

    February 8, 2010 at 11:12 pm
    liudin commented

    kebahagian semu itu ada karena Super Ego yang ber­usaha melawan Ego dari diri sendri

    secara psikologis tentu saja orang yang mem­bohongi dirinya sen­diri dengan meng­atakan sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan hati akan meng­almi yang namanya kebahagiaan semu

    ter­kadang kita merasa ter­lalu khawatir ten­tang pen­dapat orang lain meng­enai kita dan itu mem­buat kita tidak bahagia
    apalagi kehilangan peluang-peluang emas yang ter­lalu munafik jika tidak meng­atakan menyesal

    Seper­tinya rame kalo sam­pean dis­kusi lang­sung dengan @mas_stein di atas :P
    ~|wongiseng|~

    February 9, 2010 at 7:19 am
    clingakclinguk commented

    makin banyak pilihan makin bingung ten­tunya, saat ada pilihan dari A-Z, milih A, wah ter­nyata ndak bahagia, ganti milih B ah, eh ndak bahagia jg, kayak­nya klo milih C bahagia deh, hmmm…setelah dicoba pun sama ndak bahagia, sam­pai Z, dan baru sadar ter­nyata kebahagiaan ada di A.

    jadi, mung­kin kebahagiaan itu adalah kemam­puan diri kita untuk menerima takdir dengan ikh­las ya?

    Bisa jadi begitu, daripada pas sadar tau-tau A sudah jadi sama orang lain ya cling ? :))
    ~|wongiseng|~

    February 9, 2010 at 11:47 am
    hanif IM commented

    ber­arti semua ter­gan­tung zaman yah? cerita diatas menan­dakan kalau masa lalu tidak bisa di ulang, jadi mereka merasa bahagia atas apa yang ter­jadi sekarang.

    Bisa dibilang begitu, men­dingan men­syukuri apa yang ada :) ~|wongiseng|~

    February 10, 2010 at 7:43 am
    Aubrey.ade commented

    Jangan jangan kebahagiaan yg sy rasakan semuanya kebahagiaan sin­tetik ya mbah :mrgreen:

    Pa kabar sim­bah ? :lol:

    Alhamdulillah masih hidup mbak Ade, apa kabar ? Gimana dongeng ? :))
    ~|wongiseng|~

    February 16, 2010 at 8:09 am