Sudah ter­lalu banyak yang mem­bahas masalah RPM Kon­ten ini, saya tidak akan menam­bah pusing sam­pean :P Pada intinya memang ran­cangan Per­men ini meng­an­dung banyak masalah. Peta per­masalahan yang saya tang­kap dari para pakar kurang lebih seperti yang ada dalam peta ini:
.

Secara tek­nis tidak bisa diim­plemen­tasikan, dilihat dari sisi hukum tum­pang tin­dih, interp­retasi politis­nya bisa disalahgunakan  pemerin­tah untuk ber­tin­dak secara rep­resif dan meng­ekang kebebasan ber­pen­dapat. Lagian kenapa pusing-pusing ? Wong men­trinya saja belum baca dan sudah akan dibatalkan.

Sekarang sudah tidak ter­lalu riuh ter­iakan penolakan, kepala sudah dingin karena tahu akan dibatalkan, per­tanyaan meng­ganggu masih ter­sisa. Sebaik­nya bagaimana ?

Kebebasan ber­pen­dapat memang perlu dijaga, tapi sebenar­nya kebebasan inipun ada batas­nya. Katanya John Stuart Mill ada prin­sip yang mem­batasi.  The harm prin­ciple, jangan sam­pai kebebasan ter­sebut merugikan orang lain yang belum siap meng­hadapi kebebasan.

Salah satu masalah utamanya menurut saya adalah social readiness, kesiapan masyarakat yang belum ter­lalu tinggi. Con­toh seder­hana, masih banyak saudara atau kenalan sen­diri yang melang­gar term of service Facebook dengan men­daf­tarkan anak­nya yang dibawah 13 tahun. Atau yang mem­biarkan anak­nya yang masih kecil sur­fing inter­net sen­dirian tanpa dijaga dan tidak melin­dunginya dengan  filtering/self cen­sor­ship tools  semacam DNS Nawala. Lagian berapa banyak orang tua yang fasih men­setup DNS fil­tering sendiri ?

Sebenar­nya yang perlu diting­katkan per­tama kali adalah kesadaran masyarakat. Selagi masih banyak kasus pelang­garan, ketidakpedulian atau mung­kin ketidak­tahuan akan keten­tuan layanan somebody has got to do something about it.  

Menurut saya tidak ada salah­nya pemerin­tah dengan  dukungan penyeleng­gara men­coba  melin­dungi masyarakat dari hal-hal yang tidak baik yang disebabkan oleh kurang­nya kesadaran masyarakat ini. Ten­tunya bukan dengan cara  meng­atur dan meng­gunakan ancaman sanksi adminis­tratif. Caranya bagaimana ?

Barang­kali bisa meng­acu pada  Social Networ­king Services Safety Prin­ciple di Uni Eropa. Di sini penyeleng­gara dirang­kul dan diajak untuk menyepakati prin­sip yang diang­gap baik untuk kepen­tingan masyarakat uni eropa. Pengawasan dari EU hanya dalam ben­tuk penelitian ten­tang kesiapan para penyeleng­gara dalam meng­ikuti safety prin­ciple ini, yaitu dengan melakukan uji coba seba­gai pengguna.

Prin­sip yang disepakati oleh indus­tri di EU ter­sebut adalah (ndak saya ter­jemahkan tim­bangane keliru):

Prin­ciple 1: Raise awareness of safety education mes­sages and accep­table use policies to users, parents, teachers and carers in a prominent, clear and age-appropriate manner

Prin­ciple 2: Work towards ensuring that services are age-appropriate for the inten­ded audience

Prin­ciple 3: Empower users through tools and technology

Prin­ciple 4: Provide easy-to-use mechanisms to report con­duct or con­tent that violates the terms of service

Prin­ciple 5: Res­pond to notifications of Illegal con­tent or conduct

Prin­ciple 6: Enable and encourage users to employ a safe app­roach to per­sonal infor­mation and privacy

Prin­ciple 7: Assess the means for reviewing illegal or prohibited content/conduct

Seper­tinya prin­sip ini bisa disepakati penyeleng­gara kon­ten mul­timedia yang punya hatinurani. Sebenar­nya kalau diliat-liat prin­sip 4–6 sudah ter­cakup dalam RPM kon­ten yang akhir­nya dibatalkan ini. Memas­tikan adanya  mekanisme pelaporan pelang­garan oleh peng­guna, dan meng­ajak penyeleng­gara untuk menang­gapinya dengan serius. Masalah privasi juga diang­gap seba­gai hal prin­sip yang perlu untuk melin­dungi peng­guna inter­net yang belum dewasa. Sayang­nya prin­sip 1–3 yang pen­ting jus­tru malah tidak men­dapat tem­pat utama dalam RPM tersebut.

Wis ah, sudah basi, ter­lam­bat dan toh RPM nya sudah dibatalkan :P

Written on February 19th, 2010 & filed under Iseng, Ndobos, Politikana Tags: , , ,
LEAVE A COMMENT
Comment
CommentLuv Enabled
 
COMMENTS
    mas stein commented

    oalah mbah mbah, kenapa ndak diter­jemahkan? itu kan menyulitkan pem­baca ndeso katro macem saya…
    mas stein´s last blog: Benar­kah Ndak Ada Tuhan Selain Allah?

    Ora’ ngan­del nek kowe ra’ mudeng mas, peng­gemar Helloween kok rak mudeng eng­gres :P
    ~|wongiseng|~

    February 19, 2010 at 9:59 am
    prajnamu commented

    Uhm… Caranya, seperti yg saya usulkan di P, Media Literacy. Per­cepatan tek­nologi jelas sulit diim­bangi dengan social readiness, karena kita tahu lahir­nya si tek­nologi dilatar­belakangi sis­tem sosial dan budaya yg ada di tem­pat lahirnya.

    Tapi pen­didikan, dan mekanisme kon­trol oleh publik, adalah keniscayaan. Bisa lang­geng, tapi jelas tidak instan.

    Upaya melek media harus cepat diinisiasi, di sekolah. Melalui sekolah, kita bisa men­jang­kau orangtua juga, sekaligus tentu anak-anaknya.

    Yang saya heran, kemana Men­teri Pen­didikan? Kok ga komen­tar sama sekali soal ber­ba­gai kasus penyalahgunaan sosial media akibat tidak melek ter­hadap tek­nologi itu… ;))

    Banyak cara lain yang tidak rep­resif, ter­masuk media literacy. Menurut saya tetap perlu dileng­kapi dengan merang­kul penyeleng­gara layanan dan meng­ajak mereka men­jaga kemung­kinan keten­tuan layanan­nya diabaikan. ~|wongiseng|~

    February 19, 2010 at 4:45 pm
    ridwan commented

    Secara pribadi saya menilai keberadaan Per­aturan semacam ini (entah dalam ben­tuk Per­Men, UU, atau apalah) mut­lak diper­lukan. Bukan untuk meng­ekang dan mem­batasi kebebasan seseorang. Tapi lebih kearah pengawasan agar kebebasan itu ber­tang­gung jawab.
    ridwan´s last blog: Ada Polisi di HP ku

    Mesti hati-hati memfor­mulasikan­nya karena orang sudah cen­derung trauma orba :)
    ~|wongiseng|~

    February 19, 2010 at 6:07 pm
    warm commented

    per­bedaan itu mung­kin karena pola fikir yang niat mem­buat rpm itu, yang entah­lah tujuan utamanya apa

    tapi ya begitulah, pengen ngatur2 sesuatu tapi efek­nya kadang baru ter­fikir belakangan

    hmm makin ngawur saja komen saya, mbah :D

    Ndak ngawur kok bos, komen­tar­nya ber­harga. Moga-moga bukan pola pikir rep­resif yang men­dasari :P
    ~|wongiseng|~

    February 21, 2010 at 1:33 pm
    Guru Go!Blog commented

    Saya positif thin­king aja mas, karena saya yakin bahwa pem­buat kebijakan itu sudah mem­per­siap­ken segala sesuatunya dengan penuh per­tim­bangan, namun pada awal kelahiran­nya, pas­tilah wajar jika ter­jadi pro kon­tra. :lol:

    Kebetulan draft­nya ini memang ber­masalah mas ;P Tapi, kalau dibiarkan tanpa aturan sama sekali juga rasanya tidak baik :)
    ~|wongiseng|~

    February 21, 2010 at 8:53 pm
    clingakclinguk commented

    per­nah men­jelaskan ten­tang peng­gunaan DNS seba­gai fil­ter ke salah seorang rekan yang sudah punya anak SD, tapi ditolak, males nyeting ini-itu, lalu dia tam­bah argumen­tasinya dengan kata-kata emang kamu mau dibatas-batasi?

    ya sudah­lah, saya pun balik kanan, maju jalan :D
    clingakclinguk´s last blog: bukan korban facebook

    Ya asal dia tau resikonya, emang susah jg anak SD, ting­gal jalan ke war­net seben­tar jg bisa. Kecuali tiap war­net pake DNS Nawala :P
    ~|wongiseng|~

    February 22, 2010 at 1:33 am
    antokz commented

    saya sebener­nya kurang setuju adana rpm ini, tapi jika memang dgn begitu lebih baik okleh kalau begitu

    ber­kun­jung dan ditunggu kun­jungan balik­nya makasihh :D
    antokz´s last blog: Eksp­resi Puisi Cinta Satu Bait

    February 22, 2010 at 5:16 am
    Kuta Kharisma commented

    mari ber­doa untuk yang terbaik

    Mari :) ~|wongiseng|~

    February 24, 2010 at 5:28 am