Belakangan ini saya sering meng­amati dis­kusi “hangat” di ranah daring. Entah di  Twit­ter, Blog, atau forum pem­baca berita. Panas, sam­pai saling melecehkan, saling menem­pelkan label atau bahkan saling memaki. Sesuatu yang di dunia nyata sungkan dilakukan, ter­nyata sering ter­jadi di ranah daring.

Tidak jarang ter­lihat tokoh ter­kenal, politisi, pejabat tinggi, war­tawan   ber­ban­tahan dengan gaya bahasa dan dialog ala sinetron.  Dramatis, penuh peng­hayatan emosi dan tidak kalah dengan gaya ber­dis­kusi para ababil.

Mung­kin bisa dimengerti kalau dialog ter­jadi antara karak­ter anonim, karena alter ego memang sering dipakai untuk sem­bunyi, menyatakan sesuatu yang mung­kin memalukan kalau dinyatakan lang­sung oleh karak­ter aslinya. Tapi tidak jarang yang meng­gunakan iden­titas asli pun tadinya seperti ber­debat tapi  ujung-ujungnya malah mem­bahas aib lawan bicaranya,  bukan mem­perdalam isu yang diperdebatkan.

Ini menarik, meng­apa ketika ber­temu lang­sung kita ramah, senyum, saling sapa dan saling hormat. Tapi ketika ber­beda pen­dapat di ranah daring  keramahan dan sopan san­tun seperti dilupakan. Barang­kali ketika ber­tatapan lang­sung,  adat istiadat dan ajaran sopan san­tun dari kecil melatih kita untuk memen­dam emosi, dan menutupi apa yang sebenar­nya dirasakan.

Apa seba­gai bangsa yang ter­biasa sopan dan ramah, kita sebenar­nya memen­dam amarah? Sehingga ketika per­temuan hanya ter­jadi di ranah daring, maka yang ter­jadi adalah pelam­piasan dari emosi yang ter­pen­dam ? Sebagian dari kita (kadang saya sen­diri juga sih :P ) lalu ber­ubah men­jadi orang-orang yang daring.

Dare to be careless. Dare to be judgemental.

Berani untuk asbun dan asal njeplak. Berani untuk saling serang secara per­sonal. Mem­buat dis­kusi men­jadi tidak tentu arah, karena  mes­tinya yang diserang adalah pen­dapat, opini atau masalah awal yang diperdebatkan. Bukan saling menyerang pribadi yang berdiskusi.

Mung­kin kita belum ter­biasa memahami latar belakang lawan dis­kusi tanpa meng­hakimi, ketika pen­dapat­nya berbeda.

Sebenar­nya  per­bedaan pen­dapat bisa dipahami seba­gai per­temuan antara dua aliran yang memang sum­ber mata air idenya sudah ber­beda. Air asin dan air tawar tidak selalu ber­cam­pur dengan sem­purna di muara. Tidak jadi masalah, biar saja ber­dam­pingan tanpa harus ada yang mengalah.

Tapi mung­kin ini susah diterima. Ketika saya ber­beda pen­dapat dengan anda, seolah-olah hanya ada dua kemung­kinan, entah saya atau anda yang salah. Sehingga per­debatan harus ber­lan­jut dengan drama untuk menen­tukan satu dari dua kemung­kinan ini.

Padahal barang­kali dua-duanya benar menurut pengetahuan mereka masing-masing, atau barang­kali malah dua-duanya salah. Ah sudah­lah, daripada bingung men­ding nik­mati saja drama-drama daring ini. Itung-itung peng­ganti sinetron :P

Bookmark and Share
Written on May 7th, 2010 & filed under Iseng Tags: , , ,
LEAVE A COMMENT
Comment
CommentLuv Enabled
 
COMMENTS
    wahyuseptiarki commented

    Wah, mbah. Saya sen­diri yang blog­ger baru udah sering menyak­sikan drama ‘daring’ itu. Mari kita nik­mati :D

    Sip, mari kita nik­mati ber­sama sam­bil sesekali ikut rusuh :P ~|wongiseng|~

    May 7, 2010 at 11:26 pm
    kucing_usil commented

    hahahaha … saya juga penon­ton setia sinetron ranah daring. seru, liat karak­ter lain yang sebelum­nya ndak mun­cul di dunia nyata :D

    mudah-mudahan sih belum jadi pemain lang­sung :p

    Mudah-mudahan bisa meng­hin­dar jadi pemain lang­sung, ntar malu sen­diri liat jejak-jejaknya :D ~|wongiseng|~

    May 9, 2010 at 1:11 pm
    devieriana commented

    ber­sem­bunyi dibalik kedok nama samaran itu aman ya mbah.. Tapi saya kok nggak bisa nyamar iki piyeee? :((

    Dari dulu pakai nama asli, sekalinya pakai nama samaran malah lupa :))

    Ya sudah, biar aja emreka ber­sinetronria, kita non­ton dipojokan sam­bil ngemut kwaci aja.. ;))
    devieriana´s last blog: Anak vs Sinetron

    Rasa aman yang semu, biasanya orang tau juga akhir­nya siapa :P Kwaci kok dimut ! :)) ~|wongiseng|~

    May 11, 2010 at 1:58 am
    mas stein commented

    saya malah pengen­nya itu sering ter­jadi mbah, biar ketauan mana yang aslinya bera­ngasan. walaupun ndak bisa sepenuh­nya dipake mbikin kesim­pulan yang bisa diper­tang­gungjawabkan, paling ndak dari gaya nyerang dan nang­kis­nya kita bisa liat indikasi seseorang ter­masuk golongan impul­sip bin reak­sio­ner opo ndak.

    kalo buruh pabrik macem saya impul­sip dan agak reak­sio­ner masih ndak ter­lalu masalah, wong ndak punya kuasa apa-apa. lha kalo punya power gede opo ndak dadi gawe?
    mas stein´s last blog: Bukan Manusia Biasa

    Bener juga, ajang uji coba sifat asli dalam tekanan seperti apa :P ~|wongiseng|~

    May 11, 2010 at 8:23 am
    boneth commented

    daring opo toh?

    *masang muka o’on :p

    Yo mbuh :P *ikutan masang muka o’on* :D ~|wongiseng|~

    May 12, 2010 at 10:26 am
    bukan detikcom commented

    KAlo saya per­hatikan sih…kondisinya jus­tru paling kejam di website forum mbah…kalau diban­dingkan di blog. Dan sekarang kek­nya twit­ter juga mulai menyangi ke-daring-an para peng­huni forum
    bukan detikcom´s last blog: Saya jatuh cinta dengan film ini

    Iya kadang lucu-lucu kadang serem juga yg di forum-forum itu :P ~|wongiseng|~

    May 18, 2010 at 9:58 pm

    dapat istilah baru niy saya, daring, hmmm…swicth off lah televisi, mari main ke pan­tai saja…^^
    Tour, Food, and Health´s last blog: Cara Men­jaga Kehamilan Dari Proses Masuk­nya Racun dalam Tubuh: Sebuah Pelajaran dari Tragedi Minamata

    Sama buat saya dalam jaringan/daring/online ini juga relatif baru kok :) ~|wongiseng|~

    May 19, 2010 at 9:23 am
    darahbiroe commented

    salam kenal blogwal­king
    daring malah asing ditelinga ku
    heheheh :D

    Salam kenal :) Emang rodo aneh, online/offline masih lebih sering diliat daripada daring/luring :P ~|wongiseng|~

    May 19, 2010 at 10:26 am
    antokcupu commented

    twiter aku malah gak penah login
    hehehhe :D
    Bagus, gak baik untuk kesehatan ! :D ~|wongiseng|~

    May 19, 2010 at 10:26 am
    3sna commented

    enakan makan teri daring sama nasi panas om… :p , dicam­pur sama ken­tang daring pedas juga enak :D

    Yak inilah con­toh komen­tar daring *kriuk* :)) ~|wongiseng|~

    May 24, 2010 at 5:05 pm
    mbakDos commented

    kalo mau tau kekuatan anonimitas, ya beginilah.. orang akan jadi lebih hati-hati ketika iden­titas­nya secara individual itu ketauan, karena akan ada kon­sekuensi dari apa yang dilakuin atau diomongin.

    jadinya pas ada kesem­patan untuk ber­anonim ria.. yaa kadang malah jadi bablas tuh ;-)

    Begitu ya mbak dos :) Mung­kin mesti men­cari keseim­bangan supaya privasi tidak ter­ganggu tapi tidak bablas anonim pol. Semi anonim mung­kin :P ~|wongiseng|~

    May 28, 2010 at 5:59 am
    woelank commented

    bisa jadi karena para penulis­nya itu ga saling ber­tatap muka jadi apa yang ditulis ber­kesan tanpa batasan.
    mau marah bin ngamuk gemana juga hanya bisa mem­balas dengan tulisan, tidak dengan baku han­tam fisik secara nyata.

    kalau nanti ter­nyata ber­temu beneran paling hanya ber­tegur sapa dan meng­etawakan apa yang per­nah mereka tulis. meng­ang­gap apa yang mereka per­debatkan hanya angin lalu semata..

    mung­kin.…

    June 9, 2010 at 11:09 am
      wongiseng commented

      Semoga begitu, kalau ber­lan­jut di dunia nyata ber­an­tem­nya repot juga :D

      July 4, 2010 at 8:09 pm