Ham­pir sebulan sudah saya tidak merokok. Ber­arti ini menyamai rekor ber­henti merokok paling lama sejak saya men­jadi chain smoker  sekitar 15 tahun yang lalu. Waktu masih muda dulu,  ber­henti merokok paling suk­ses hanya selama 3  minggu. Kenapa? Karena 3 minggu  ter­nyata cukup untuk men­jajagi dan menyadari bahwa usaha PDKT mahasiswi ber­jil­bab can­tik yang tidak suka per­okok dulu itu ter­nyata sia-sia. Setelah kejadian itu belum per­nah men­coba untuk ber­henti lagi, ya baru sekarang ini.

Sekali ini usaha ber­henti merokok bukan karena motivasi eks­ter­nal. Malahan kalau dilihat-lihat tidak jelas motivasinya apa. Mulai ber­hen­tinya sangat impul­sif, hanya karena rokok habis, dan kebetulan bulan puasa, terus penasaran ingin tahu bisa ber­henti merokok berapa lama. Ter­nyata alhamdulillah bisa sam­pai sekarang ber­henti. Dan semakin lama, godaan untuk kem­bali merokok semakin melemah.

Sekedar catatan ngawur per­asaan yang saya alami selama ber­henti merokok kemarin, mung­kin bisa dibagi dalam beberapa fase :

Mung­kin masih tetap kadang terkenang-kenang juga masa-masa selama merokok. Ya wajar saja, selama 15 tahun selalu ditemani oleh rokok yang setia meng­iringi setiap lang­kah, entah saat sedang susah atau saat sedang gem­bira. Tiba-tiba sekarang memutuskan untuk pergi. Cur­hat ten­tang bagaimana rasanya ber­henti merokok, mirip seperti diputus pacar yang sudah puluhan tahun jalan bareng ini sam­pai akhir­nya jadi ins­pirasi tulisan sok ngeng­gres di lomba tulisan sing­kat UWRF.

Ya wis gitu aja, lagi-lagi updatenya ten­tang rokok. Tapi ya memang itu yang jadi pusat per­hatian pribadi selama beberapa minggu belakangan ini :) . Doakan saja semoga bisa tetep ber­tahan seperti sekarang, dan tidak rujuk lagi dengan pacar lama yang mematikan tersebut.

Written on September 3rd, 2010 & filed under Iseng Tags: , ,

Tahun ini agak ber­beda dengan tahun-tahun sebelum­nya. Bulan puasa kali ini saya tidak  men­coba men­jadi pengikut Gamal Al Banna yang  mem­per­bolehkan orang untuk merokok di bulan puasa. Tidak juga men­coba mem­buat (walaupun ham­pir) fatwa pribadi yang mem­per­mudah puasa sesuai keinginan saya sendiri.

Ber­awal dari  kebetulan, per­sediaan tem­bakau saya habis ber­tepatan dengan saat buka puasa per­tama hari Rabu yang lalu. Secara iseng dan impul­sif saya memutuskan untuk men­coba ber­henti merokok. Niat­nya ya hanya sekedar men­coba, ingin tahu bisa sam­pai sejauh mana ber­henti. Apa bisa ber­henti sehari ? Dua hari ? Sebulan ?

Hari per­tama tidak merokok, bener-bener saya jadi seperti zom­bie. Bisa jalan, bisa bicara, bisa ke kam­pus, senyum kalau ketemu orang, tapi di depan kom­puter nyaris tidak bisa ber­fungsi. Kalau tidak meng­an­tuk, ya tidak bisa fokus.

Hari ke dua masih sama seperti hari per­tama, dateng ke kam­pus, duduk di depan kom­puter, tapi hanya sedikit lebih ber­guna daripada pem­berat ker­tas, karena paling tidak saya bisa jalan dan pin­dah sen­diri. Hari ketiga dan ke empat untung­nya week end, bisa bengong dan tidak ber­fungsi seharian penuh.

Akhir­nya beberapa hari tanpa nikotin ini saya habiskan dengan membaca-baca infor­masi seputar ber­henti merokok. Salah satunya adalah ten­tang addict symp­toms yang dijelaskan di sini. Ter­nyata 2–3 hari per­tama memang masa yang paling berat.

Karena ini masa-masa physical withdrawal, saat-saat dimana secara fisik beneran ter­jadi pengurangan kadar nikotin dalam tubuh. Saya seper­tinya sudah survive dan melewati masa-masa ini, walaupun dilalui dengan men­jadi setengah zombie.

Setelah lewat masa kritis ini, mes­tinya masalah­nya ber­ganti sekarang: ting­gal masalah psikologis dan emosio­nal. Bukan ber­arti masalah­nya jadi lebih sederhana.

Putus hubungan?

Setelah lewat masa physical withdrawal ini, mes­tinya badan saya sekarang sudah lumayan ber­sih dari nikotin. Yang saya butuh sekarang, memahami bagaimana men­jalani emotio­nal recovery.

giving up years and years of nicotine depen­dence is a traumatic event, akin to the death of a close loved one, which is often accom­panied by the onset of a tem­porary state of depression.

Sam­pai dep­resi? Duh, moga-moga ndak. Kalaupun iya semoga hanya ringan dan semen­tara. Memang ada rasa kehilangan dan rasanya masih tidak terima. Mung­kin saya masih dalam tahap denial“I’m not really going to quit. I’ll just pretend and see how far I get.”

Masak sih  lin­tingan rokok Rabu malam itu benar-benar lin­tingan ter­akhir?  Beneran gak bakal ngerokok lagi kalau lagi stress, sedih  atau mesti mikir sesuatu yang rumit?

Bener gak bakalan lagi men­cari ketenangan dari hem­busan asap rokok? Beneran bakal mening­galkan pacar yang bahkan sejak sebelum kenal istri selama lebih dari satu dekade belakangan  ini setia menemani?

Entah­lah. Belum ada seminggu saya ber­henti merokok, siapa tahu selesai meng­etik ini terus saya lari ke warung dan beli tembakau. Tapi rasanya kalau sekedar selama bulan puasa ini, mung­kin masih bisa untuk putus hubungan dulu dengan nikotin dan asap-asapnya

Kalau untuk putus selamanya rasanya masih agak mus­tahil. Apa sebener­nya mung­kin aja ? Toh ini sudah lewat masa kritis 3 hari per­tama, ber­henti total cold tur­key tanpa tahapan apa-apa.

Ndak tau, saya ndak yakin. Kalau tiba-tiba stress, sun­tuk abis, gak ada yang bisa diajak ngomong, dan kebetulan lagi jalan di depan warung rokok 24 jam, gak yakin gak bakalan relapse dan kem­bali ke pacar lama :) . Tapi ya kita lihat saja nanti.

Written on August 15th, 2010 & filed under Iseng Tags: , , ,

Tiga setengah jam lagi per­tan­dingan final piala dunia, Belanda vs Spanyol akan ber­lang­sung. Per­tan­dingan baru akan ber­lang­sung malam di Belanda, tapi sejak siang tadi Museum­plein Ams­terdam sudah dipenuhi fans tim Oranye. Katanya bakal sam­pai 150 000 fans yang akan non­ton bareng di sana.

Ada berita menarik sebelum per­tan­dingan final ini, berita-berita seputar ramalan para binatang. Yang paling ngetop, Paul si Gurita dari Ober­hausen meramalkan bahwa Spanyol yang akan merebut piala dunia untuk per­tama kalinya. Sebelum ramalan resmi dari Mbah Paul Gurita ini, sem­pat ada hoax yang ber­edar bahwa si Paul meramalkan Belanda yang akan menang. Ter­nyata hoax itu ber­asal dari twit orang Indonesia.

Kecewa dengan prediksi Paul, orang Belanda akhir­nya ber­tanya sama Pieter sesama cumi dari Antwerp. Namanya aja Pieter, ya jelas milih Belanda. Prediksi Pieter ini diper­kuat juga oleh par­kit Mani dari Singapura. Masih belum puas dengan ramalan gurita Pieter dan par­kit Mani ?

Koran Belanda Spits sem­pat ber­tanya juga pada Babi Rozijn­tje. Er kan niet mis gaan, nothing can go wrong kata orang Belanda. Ramalan Paul dimen­tahkan oleh ramalan Gurita Antwerp, Par­kit dan Babi.

Ter­akhir yang saya dengar, ini mung­kin akal-akalannya fans Belanda di Indonesia, si Mamat, gurita dari sea world juga meramalkan Belanda yang akan memenangkan pertandingan.

Baru sekali ini per­tan­dingan piala dunia ikut mem­buat para binatang sibuk ikut meramal. Nah kalau diliat dari ramalan para binatang ini hanya ada satu Gurita Paul yang memp­rediksi Spanyol menang, lawan 4 binatang, 2 Gurita, Babi + Par­kit. Kalau kesak­tian mereka sama, ber­arti nanti skor­nya akan 4–1 untuk Belanda.

Kalau toh akhir­nya Belanda kalah juga, ber­arti memang Paul yang paling sakti, dan binatang lain hanya ikut-ikutan ;)

Update: Kelewatan satu tokoh, namanya Pino the Chimps dari Estonia yang juga men­jagokan Belanda.
Pino the Chimps

This chimps, may or may not know world cup’s result tonight :))

Written on July 11th, 2010 & filed under Iseng Tags: , , , , , , ,

Suatu hari dalam per­jalanan pulang naik sepeda yang biasanya hanya lima menit karena tem­pat ting­gal yang tidak ter­lalu jauh, saya sengaja meng­am­bil jalan memutar supaya lebih banyak kalori yang ter­bakar. Menyusur sedikit Ams­terdam Rhijn kanal dan iseng menaiki jem­batan gan­tung yang ter­lihat ber­kelok dan men­daki ke seberang sungai.

Belakangan saya tahu jem­batan ini namanya Nesciobrug. Nescio adalah pseudonim dari Jan Hen­drik Frederik Grönloh, salah seorang penulis Belanda. Sam­pai di seberang, saya men­coba meng­itari sedikit daerah di sana. Ter­nyata banyak orang yang ber­main roller skate. Setelah meng­ikuti orang-orang yang main roller skate ini, ber­temu semacam pan­tai kecil yang cukup ter­sem­bunyi dan meng­ingatkan saya pada pan­tai resort-resort privat yang biasanya di Indonesia hanya bisa dinik­mati oleh pengun­jung bungalow atau hotel berbintang.

Minggu ber­ikut­nya saya lang­sung meng­ajak anak dan istri meng­un­jungi tem­pat yang lumayan menarik ini. Karena setelah beberapa tahun saya ting­gal di Ams­terdam baru tahu ada pan­tai kecil yang ter­sem­bunyi. Biasanya harus ke Zaan­dvort atau Scheveningen kalau ingin men­cari hiburan di ping­gir pan­tai. Rute roller skate juga ideal untuk meng­habiskan waktu seharian dengan anak yang memang belakangan ini sedang hobi main roller schaatsen.

Setelah beberapa kali meng­un­jungi tem­pat ini, baru saya men­coba men­cari lebih jauh sebenar­nya tem­pat ini tem­pat apa. Google punya cerita, ter­nyata ini tem­pat dulunya adalah semacam Ban­tar Gebang !

Sekarang lokasi ini dikenal dengan nama Diemer­park, dan sudah ber­kem­bang men­jadi tem­pat rek­reasi alam. Tapi sebelum­nya daerah ini dikenal dengan nama Diemerzeedijk. Ter­kenal seba­gai daerah yang paling kotor dan penuh polusi, karena merupakan tem­pat pem­buangan sam­pah organik maupun sam­pah kimia pada sekitar tahun 60’an. Saking kotor­nya sam­pai akhir­nya pada tahun 1980 area inipun ditutup dan tidak boleh diak­ses manusia karena diang­gap mem­bahayakan kesehatan.

Pada saat IJBurg dan daerah sekitar­nya mulai dibangun men­jadi daerah pemukiman, mau tidak mau para pem­bangun harus ber­hadapan dengan daerah yang ter­kenal kotor ini. Ter­nyata setelah belasan tahun diisolasi, alam meng­am­bil alih. Sampah-sampah yang dulu dibuang di daerah ini mem­buat lapisan humus yang memung­kinkan ber­aneka tum­buhan ber­kem­bang, dan ekosis­tem alami meng­hidupkan kem­bali daerah ini.

Alam ber­hasil merenovasi dan menyem­buhkan kem­bali daerah yang tadinya sudah diisolasi dan diabaikan oleh manusia. Sam­pai akhir­nya saat ini men­jadi tem­pat ber­main, yang buat pen­datang baru yang buta dengan sejarah daerah disekitar Ams­terdam, sama sekali tidak ter­lihat bekas-bekas bahwa area rek­reasi ini dulunya merupakan tem­pat pem­buangan sampah.

Ter­nyata lokasi yang tadinya rusak parah bisa kem­bali men­jadi indah setelah diisolasi dari sen­tuhan kotor manusia dan diserahkan pada alam untuk mem­per­baiki. Barang­kali Ban­tar Gebang, atau daerah-daerah kumuh di Jakarta bisa diper­lakukan seperti itu *ngomyang*. Diisolasi dan peng­huninya pin­dah tem­pat dulu, setelah direnovasi oleh alam baru digunakan kembali.

Written on July 4th, 2010 & filed under Iseng Tags: , ,