Berita-berita meng­gelikan seputar ting­kah laku ang­gota dewan saat memainkan per­anan mereka dalam sinetron Pan­sus belakangan ini mem­buat saya bertanya-tanya ten­tang profil dan latar belakang para ang­gota dewan yang terhormat.

Berapa banyak artis, pelawak, pengusaha, akademisi, birok­rat yang men­jadi ang­gota dewan ? Bagaimana kom­posisi usia dan latar belakang akademis mereka ? Apakah masih layak untuk disebut taman kanak-kanak seperti kata almar­hum Gus Dur ? Ataukah sekarang sudah lebih canggih ?

Tadinya saya pikir, harus mem­baca satu per­satu profil ang­gota dewan dan meng­um­pulkan statis­tik. Untunglah ter­nyata sudah ada sekum­pulan data olahan yang semes­tinya bisa men­jawab per­tanyaan saya.

Karena dalam situs KPU data-data olahan ter­sebut ter­sebar dalam beberapa file PDF, saya coba gabung hasil olahan ter­sebut dalam artikel ini. Maaf kalau infor­masi ini sudah basi, kemung­kinan besar sudah ada yang mem­bahas dulu saat para ang­gota dewan ini ter­pilih dan dilan­tik. Ter­lan­jur penasaran, jadi catatan ini tetap saya buat.

Akademis

Data akademis ini ter­nyata cukup men­jan­jikan. Sudah jauh lebih baik dari zaman orde baru. Samar-samar saya masih ingat ayah saya meng­eluh ten­tang ren­dah­nya rata-rata pen­didikan ang­gota dewan yang terhormat.

Sekarang mayoritas sudah menyelesaikan pen­didikan paling tidak S1. Semoga semua ijazah­nya asli dan tidak ada yang palsu.

Hosted by imgur.com

Satu hal yang baru saya tahu, ter­nyata par­tai Hanura memiliki ang­gota dewan ber­pen­didikan S2 dengan prosen­tase ter­besar (63%).

Hosted by imgur.com

 

Jenis Kelamin

Masalah ini saya tidak akan ber­komen­tar ter­lalu banyak, ter­nyata politisi per­em­puan masih cukup ren­dah prosentasenya.

Hosted by imgur.com

Barang­kali PKS yang perlu men­dapat per­hatian khusus karena ter­lihat rasio ang­gota dewan per­em­puan jauh lebih rendah.

Hosted by imgur.com

Usia

Ang­gota ter­muda Hajjah. Per­cha Lean­puri, mbak politisi ini ter­nyata baru ber­usia 23 tahun, semen­tara ter­tua adalah H. Mudaffar Sjah ber­usia 74 tahun. 

Hosted by imgur.com

 

Kalau digabung, ang­gota dewan yang ber­usia diatas 41 tahun  ham­pir men­capai 75% ( [38.98+24.59+10.93+0.36]%=74.86%). Ber­arti sisanya, ang­gota DPR yang masih muda hanya sekitar 25%. 

Masih lebih banyak dari ang­gota dewan yang sudah melewati usia pen­siun (61+ ~ 11%), tapi kalah dengan jum­lah ang­gota dewan yang men­dekati usia pen­siun (51+ ~ 36%).

Golongan ter­akhir yang 36% ini saya rasa para politisi gaek, yang sudah makan asam garam, petinggi di par­tai masing-masing dan bisa jadi dominan dalam pengam­bilan keputusan. 

Mereka bisa jadi sekelom­pok sesepuh yang dihor­mati karena diang­gap ber­pengalaman dan mes­tinya lebih bijak­sana. Bisa juga men­jadi kelom­pok yang paling sulit untuk menerima hal baru dan perubahan.

Hosted by imgur.com

Di sini saya tadinya men­duga Gerin­dra seba­gai par­tai ter­muda juga akan memiliki prosen­tasi merah biru (<40 thn) yang lebih tinggi dari yang lain. Ter­nyata dari prosen­tase masih par­tai PAN yang paling besar porsi politisi mudanya (47%). Mung­kin karena banyak artis yang terpilih. 

Peker­jaan

Sebenar­nya hanya data ini yang paling ingin saya bahas. Tapi karena ada yang lain, sekalian saya lam­pirkan dan saya komen­tari seadanya di atas.

Reaksi per­tama saya melihat gam­bar di bawah ini : Takjub !

Hosted by imgur.com

 

Ter­nyata 62.71% adalah akademisi !  Kemana saja mereka selama ini ? Kenapa bolak balik yang sering saya dengar namanya malah Raja Minyak atau Venna Melinjo ?

Jujur saja, awal keisengan saya men­cari data ini hanya sekedar ingin men­cari berapa banyak artis yang sekarang men­jadi ang­gota dewan, dan mem­ban­ding­kan­nya dengan profesi lain seperti pengusaha.

Ber­arti selama ini saya salah saat ber­ang­gapan hanya politisi + pengusaha kaya yang mampu menyediakan dana besar untuk kam­panye yang bisa men­jadi ang­gota dewan, atau artis yang sudah ter­kenal sehingga mereka bisa men­dapatkan suara banyak.

Sayang­nya ketakjuban saya ber­ubah men­jadi kesang­sian saat melihat grafik ber­ikut ini, masih data yang sama ten­tang latar belakang peker­jaan, tapi dipecah per Parpol :

Hosted by imgur.com

Di sini mulai ter­lihat ada yang aneh. Dari semua par­tai yang ada, prosen­tasi akademisi paling tinggi adalah 21% (dari par­tai Hanura). Dengan pengali ber­apapun jum­lah ang­gota dewan per par­tai, tidak akan bisa ter­capai gam­baran besar 62.71% adalah akademisi.

Saya tidak punya data berapa jum­lah ang­gota dewan per par­tai politik, dan kalaupun ada saya tidak cukup rajin untuk mem­buat rekap prosen­tase secara keseluruhan ber­dasarkan data latar belakang peker­jaan per par­tai ini.

Sekilas dari data grafik per par­tai, kemung­kinan besar profesi yang dominan tetap masih pada profesi “swasta” yang saya artikan seba­gai pengusaha. Bagian yang ter­besar kedua adalah “Ang­gota Legis­latif” yang ber­arti para politisi gaek yang ber­hasil ter­pilih kem­bali dalam dua per­iode terakhir.

Jadi kesim­pulan­nya apa ? Secara asal-asalan saya hanya bisa menyim­pulkan bahwa dari kom­posisi ang­gota dewan yang ter­hor­mat sudah lebih baik daripada beberapa puluh tahun lalu.

Politisi gaek, dan pengusaha menurut saya masih dominan, sean­dainya kesang­sian saya akan data 62.71% akademis ini ter­bukti benar. Saya sangat ber­harap saya salah dan grafik itu yang benar, tapi seper­tinya kemung­kinan ini kecil.

Ada seorang kakek ber­usia 81 tahun ber­komen­tar ten­tang kon­disi politik di Amerika:

“Dear, you won’t see any changes until all the baby boomers are gone”.

Barang­kali kutipan di atas ber­laku juga untuk politik di Indonesia.

Written on February 9th, 2010 & filed under Indonesiana, Ndobos, Politikana Tags: , , ,

Gemes melihat bapak presiden yang diam saja selama ini setelah bawahan­nya dicecar oleh gerom­bolan liar di Senayan. Diharapkan per­tang­gungjawaban­nya oleh bang Buyung Nasution, atau paling tidak kejelasan posisinya dalam kasus Cen­tury ini. Yang kedengeran sekilas hari ini, beliau malah curhat.

SMS ke SBY aneh aneh katanya:

SBY prihatin dengan tema-tema unjuk rasa yang dilakukan oleh sebagian rakyat yang menyudutkan pemerin­tahan. Banyak juga SMS serta surat-surat yang ditujukan kepadanya. “Tapi kok komen­tar­nya aneh-aneh,” ujar SBY tanpa menyebut apa isi komen­tar dan surat-surat tersebut.

Mbok sudah jangan kebanyakan cur­hat, masak sam­pai sam­pean diberi gelar Mr. Doubtful. Itu wakil presiden dan men­trinya dicerca oleh segerom­bolan pan­sus liar. Paling tidak sam­pean perlu mem­buat per­nyataan yang mem­per­jelas, menyatakan bahwa sam­pean men­dukung keputusan yang sudah diam­bil ber­sama saat itu.
Read the rest of this entry »

Written on January 19th, 2010 & filed under Indonesiana, Ndobos, Politikana Tags: , , , ,

Saling ban­tah antara ibu Sri Mulyani dengan pak Jusuf Kalla ten­tang kapan laporan bail out diterima pak JK ini sudah ber­lang­sung sejak Agus­tus 2009. Masih ber­lan­jut sam­pai dengan tanya jawab dengan pan­sus Cen­tury. Beliau menjelaskan :

Ia men­jelaskan, laporan diterimanya secara lang­sung dari Men­keu pada 25 Novem­ber 2008 . “Beliau melaporkan, KSSK yang yang datang adalah Men­keu, Guber­nur BI yang meng­atakan telah mem­berikan bail out kepada Bank Cen­tury,” kata Ketua Palang Merah Indonesia ini. Men­dengar laporan ter­sebut, Kalla meng­aku ter­kejut dan marah. Apalagi, dalam laporan yang diterimanya, Bank Cen­tury ber­masalah karena adanya kesalahan manajemen oleh pemilik dan SSB bodong.

Saya bilang, kenapa di-bail out , ini per­am­pokan. Ram­pok kok dibantu. Tang­kap orang­nya! Jangan dikasihani, itu per­in­tah saya,” kata Kalla. Saat itu, ia meng­atakan tak bisa ber­buat apa-apa karena eksekusi pengucuran dana sudah ter­jadi. Namun, Kalla marah kepada Sri Mulyani. “Saya marah kenapa ini ter­jadi. Dia (Sri Mulyani) diam saja. Karena itu saya suruh tang­kap Robert Tan­tular,” ujarnya.

Read the rest of this entry »

Written on January 14th, 2010 & filed under Indonesiana, Iseng, Ndobos, Politikana Tags: , , , , ,

Komik di atas adalah ilus­trasi dari buku putih Depar­temen Keuangan meng­enai penanganan bank Cen­tury. Mung­kin besok akan digunakan oleh bu Sri Mulyani dalam mem­per­jelas per­masalahan pada para ang­gota pan­sus Century.

Dengar-dengar kemarin tanya jawab dengan pak Boediono lumayan seru. Sayang saya ndak sem­pat melihat lang­sung. Katanya seperti menon­ton sinetron yang penuh adegan dramatis, marah-marah dan nada tinggi penuh emosi.
Read the rest of this entry »

Written on January 12th, 2010 & filed under Indonesiana, Iseng, Ndobos Tags: , , , , ,