Sudah terlalu banyak yang membahas masalah RPM Konten ini, saya tidak akan menambah pusing sampean
Pada intinya memang rancangan Permen ini mengandung banyak masalah. Peta permasalahan yang saya tangkap dari para pakar kurang lebih seperti yang ada dalam peta ini:
.
Secara teknis tidak bisa diimplementasikan, dilihat dari sisi hukum tumpang tindih, interpretasi politisnya bisa disalahgunakan pemerintah untuk bertindak secara represif dan mengekang kebebasan berpendapat. Lagian kenapa pusing-pusing ? Wong mentrinya saja belum baca dan sudah akan dibatalkan.
Read the rest of this entry »
Berita-berita menggelikan seputar tingkah laku anggota dewan saat memainkan peranan mereka dalam sinetron Pansus belakangan ini membuat saya bertanya-tanya tentang profil dan latar belakang para anggota dewan yang terhormat.
Berapa banyak artis, pelawak, pengusaha, akademisi, birokrat yang menjadi anggota dewan ? Bagaimana komposisi usia dan latar belakang akademis mereka ? Apakah masih layak untuk disebut taman kanak-kanak seperti kata almarhum Gus Dur ? Ataukah sekarang sudah lebih canggih ?
Tadinya saya pikir, harus membaca satu persatu profil anggota dewan dan mengumpulkan statistik. Untunglah ternyata sudah ada sekumpulan data olahan yang semestinya bisa menjawab pertanyaan saya.
Karena dalam situs KPU data-data olahan tersebut tersebar dalam beberapa file PDF, saya coba gabung hasil olahan tersebut dalam artikel ini. Maaf kalau informasi ini sudah basi, kemungkinan besar sudah ada yang membahas dulu saat para anggota dewan ini terpilih dan dilantik. Terlanjur penasaran, jadi catatan ini tetap saya buat.
Akademis
Data akademis ini ternyata cukup menjanjikan. Sudah jauh lebih baik dari zaman orde baru. Samar-samar saya masih ingat ayah saya mengeluh tentang rendahnya rata-rata pendidikan anggota dewan yang terhormat.
Sekarang mayoritas sudah menyelesaikan pendidikan paling tidak S1. Semoga semua ijazahnya asli dan tidak ada yang palsu.

Satu hal yang baru saya tahu, ternyata partai Hanura memiliki anggota dewan berpendidikan S2 dengan prosentase terbesar (63%).

Jenis Kelamin
Masalah ini saya tidak akan berkomentar terlalu banyak, ternyata politisi perempuan masih cukup rendah prosentasenya.

Barangkali PKS yang perlu mendapat perhatian khusus karena terlihat rasio anggota dewan perempuan jauh lebih rendah.

Usia
Anggota termuda Hajjah. Percha Leanpuri, mbak politisi ini ternyata baru berusia 23 tahun, sementara tertua adalah H. Mudaffar Sjah berusia 74 tahun.

Kalau digabung, anggota dewan yang berusia diatas 41 tahun hampir mencapai 75% ( [38.98+24.59+10.93+0.36]%=74.86%). Berarti sisanya, anggota DPR yang masih muda hanya sekitar 25%.
Masih lebih banyak dari anggota dewan yang sudah melewati usia pensiun (61+ ~ 11%), tapi kalah dengan jumlah anggota dewan yang mendekati usia pensiun (51+ ~ 36%).
Golongan terakhir yang 36% ini saya rasa para politisi gaek, yang sudah makan asam garam, petinggi di partai masing-masing dan bisa jadi dominan dalam pengambilan keputusan.
Mereka bisa jadi sekelompok sesepuh yang dihormati karena dianggap berpengalaman dan mestinya lebih bijaksana. Bisa juga menjadi kelompok yang paling sulit untuk menerima hal baru dan perubahan.

Di sini saya tadinya menduga Gerindra sebagai partai termuda juga akan memiliki prosentasi merah biru (<40 thn) yang lebih tinggi dari yang lain. Ternyata dari prosentase masih partai PAN yang paling besar porsi politisi mudanya (47%). Mungkin karena banyak artis yang terpilih.
Pekerjaan
Sebenarnya hanya data ini yang paling ingin saya bahas. Tapi karena ada yang lain, sekalian saya lampirkan dan saya komentari seadanya di atas.
Reaksi pertama saya melihat gambar di bawah ini : Takjub !

Ternyata 62.71% adalah akademisi ! Kemana saja mereka selama ini ? Kenapa bolak balik yang sering saya dengar namanya malah Raja Minyak atau Venna Melinjo ?
Jujur saja, awal keisengan saya mencari data ini hanya sekedar ingin mencari berapa banyak artis yang sekarang menjadi anggota dewan, dan membandingkannya dengan profesi lain seperti pengusaha.
Berarti selama ini saya salah saat beranggapan hanya politisi + pengusaha kaya yang mampu menyediakan dana besar untuk kampanye yang bisa menjadi anggota dewan, atau artis yang sudah terkenal sehingga mereka bisa mendapatkan suara banyak.
Sayangnya ketakjuban saya berubah menjadi kesangsian saat melihat grafik berikut ini, masih data yang sama tentang latar belakang pekerjaan, tapi dipecah per Parpol :

Di sini mulai terlihat ada yang aneh. Dari semua partai yang ada, prosentasi akademisi paling tinggi adalah 21% (dari partai Hanura). Dengan pengali berapapun jumlah anggota dewan per partai, tidak akan bisa tercapai gambaran besar 62.71% adalah akademisi.
Saya tidak punya data berapa jumlah anggota dewan per partai politik, dan kalaupun ada saya tidak cukup rajin untuk membuat rekap prosentase secara keseluruhan berdasarkan data latar belakang pekerjaan per partai ini.
Sekilas dari data grafik per partai, kemungkinan besar profesi yang dominan tetap masih pada profesi “swasta” yang saya artikan sebagai pengusaha. Bagian yang terbesar kedua adalah “Anggota Legislatif” yang berarti para politisi gaek yang berhasil terpilih kembali dalam dua periode terakhir.
Jadi kesimpulannya apa ? Secara asal-asalan saya hanya bisa menyimpulkan bahwa dari komposisi anggota dewan yang terhormat sudah lebih baik daripada beberapa puluh tahun lalu.
Politisi gaek, dan pengusaha menurut saya masih dominan, seandainya kesangsian saya akan data 62.71% akademis ini terbukti benar. Saya sangat berharap saya salah dan grafik itu yang benar, tapi sepertinya kemungkinan ini kecil.
Ada seorang kakek berusia 81 tahun berkomentar tentang kondisi politik di Amerika:
“Dear, you won’t see any changes until all the baby boomers are gone”.
Barangkali kutipan di atas berlaku juga untuk politik di Indonesia.
Deklarasi ormas Nasional Demokrat memenuhi timeline twitter hari ini. Banyak komentar lucu, miring dan menarik yang terlontar.
Sebagian menyebut gerakan ini sebagai barisan sakit hati yang kebetulan punya airtime gratis. Ada yang bilang ini adalah Golkar Lite, atau cikal bakal partai yang masih malu-malu untuk menyatakan dengan terbuka bahwa mereka sedang mempersiapkan diri untuk 2014.
Tertarik dengan komentar-komentar miring ini, akhirnya saya melihat-lihat ke situs mereka untuk sekedar mencari tahu. Melirik daftar 45 orang deklarator, ada beberapa tokoh muda seperti Anis Baswedan, Budiman Sudjatmiko, Eep Saefulloh Fatah atau Martin Manurung. Rasanya tidak sampai hati menyebut mereka sebagai Golkar-Lite.

Pas melihat lambang gerakan, tadinya sekilas mengira ini adalah kepala burung kuning menunduk ke kanan, yang sedang menutup matanya dengan ikat kepala biru karena malu
.
Ternyata saya salah. Bentuk lambang ini dimaksudkan sebagai gestur tangan yang sedang sedang berpelukan.
Bagian yang menarik lagi mungkin platform gerakan yang digambarkan dalam diagram berikut :

Platform Nasional Demokrat
Kalau dikira-kira dari gambar platformnya saja, mungkin gerakan ini bermaksud untuk merestorasi kekuatan bangsa yang diperlukan dalam menghadapi tantangan.
Mengembalikan nilai-nilai yang mengalami erosi, menempatkan kembali posisi bangsa dalam globalisasi, dan mengembalikan jati diri dan identitas bangsa yang sekarang dihantui kemiskinan.
Bagus, kata pak Tino Sidin, sampai sini sepertinya masih lumayan mudeng apa yang diinginkan oleh partai, eh gerakan yang baru dideklarasikan ini.
Lebih lanjut tentang restorasi seperti apa yang diinginkan, ada di diagram berikut ini :

Restorasi Indonesia
Kotak Restorasi pertama, okelah. Bosan juga lihat pemimpin yang L4, loe lagi, loe lagi. Tokoh-tokoh muda yang ikut menjadi bagian dari 45 deklarator gerakan ini, sangat menjanjikan dan membuat saya melihat-lihat lebih jauh gerakan ini. Bukan para inisiator yang sudah senior dan familiar tampangnya
Kotak restorasi kedua lumayan lucu, karena bisa diartikan bahwa Gerak Arus Bawah selama ini ternyata tidak selalu atas prakarsa rakyat sehingga perlu direstorasi. Lantas atas prakarsa siapa, prakarsa sponsor ?
Bagian kanan dari diagram di atas, “Manusia Indonesia yang merdeka seutuhnya” ternyata adalah visi dari gerakan Nasional Demokrat.
Sementara misi dari gerakan ini adalah sebagai berikut :
1. Membangun Politik Solidaritas:
2. Menggerakkan Ekonomi Emansipatif dan Partisipatif:
3. Menumbuh-kembangkan Budaya Gotong Royong:
Nah sampai sini saya mulai keberatan untuk membahas lebih lanjut. Keberatan dalam arti merasa bahwa ini sudah terlalu berat untuk orang iseng.
Tidak seperti lambang dan diagram visual sebelumnya yang bisa saya artikan semena-mena, bagian visi misi ini mau tidak mau mesti dibaca dengan hati-hati. Sudah mulai ke luar dari domain keisengan, dan mulai masuk domain kebingungan
Istilah Politik Solidaritas misalnya, saya hanya bisa menebak-nebak maksudnya apa. Kalau dalam penjelasannya yang dimaksud adalah solidaritas nasional, yang kira-kira akan menjadi tantangan adalah primordialisme.
Saat sebagian besar sumber daya alam daerah tertentu lebih banyak terasa manfaatnya untuk “solidaritas nasional”, bisa timbul pertanyaan. Apakah menjalankan misi membangun politik solidaritas ini bisa menjamin tercapainya visi manusia Indonesia yang merdeka seutuhnya ?
Membangun partisipasi rakyat dari tingkat lokal barangkali tidak menjamin tercapainya solidaritas nasional. Semoga saja saya keliru, tapi bisa jadi malah yang akan menjadi solid adalah solidaritas politik lokal yang bersifat primordial.
Mbuh ah, belum lagi masalah ekonomi emansipatif itu. Mungkin saya saja yang kuper, tapi ndak mudeng itu maksudnya apa. Definisi Ekonomi Kerakyatan yang dulu jaman kampanye rame diteriakkan saja sampai sekarang masih belum jelas, sekarang ada yang baru. Ekonomi Emansipatif, dan Ekonomi Partisipatif.
Ini hanya catatan sekilas apa yang ditemukan di situs Nas Dem yang baru dideklarasikan, lengkap dengan kebingungan-kebingungan saya. Kesan sekilas lumayan menarik, tapi belum terlalu mudeng maksudnya apa. Semoga makin lama nanti makin jelas partainya seperti apa
.
Jadi kalau ada yang iseng mengajak ngobrol masalah ini, paling tidak saya punya bayangan sekilas dan tahu apa yang akan saya tanyakan pada yang mengajak ngobrol
Demonstrasi 100 hari pemerintahan SBY yang kabarnya akan melibatkan puluhan ribu orang membuat saya penasaran dan bolak balik memeriksa Twitter timeline dan Google Reader pagi ini.
Ternyata sampai menjelang siang (di Indonesia mungkin sudah sore) belum ada berita yang menarik seputar demonstrasi besar tersebut.
Penonton iseng kecewa.
Ternyata yang kecewa bukan hanya saya, dari The Jakarta Globe ada dialog saling tuding antara polisi dengan demonstran. Pak Polisi bilang tidak terlalu banyak yang datang karena kekurangan sumber dana.
The Deputy chief of the Central Jakarta Police, Firli, theorized that the organizations involved didn’t have enough money to assemble the predicted crowd of 40,000. “40,000 people they said? How can they manage to get them and pay all those people? It’s all about money,” he said.
Sementara demonstrannya sendiri bilang ini gara-gara polisi yang mencegat demonstran dari luar Jakarta.
Abidin in turn blamed the police, saying they were preventing many of his group’s members from reaching the demonstrations. “Many of our labor friends from Bogor have detained, stopped by the police,” he said. “They don’t want us to get here to Jakarta to join the rally.”
Untunglah hanya demonstran dan polisi yang protes, belum terdengar penyandang dana yang ikut menyatakan kekecewaannya. Bisa-bisa jatah pupuk para petani yang tidak ikut menggeruduk hari ini terhambat oleh HKTI.