Sudah ter­lalu banyak yang mem­bahas masalah RPM Kon­ten ini, saya tidak akan menam­bah pusing sam­pean :P Pada intinya memang ran­cangan Per­men ini meng­an­dung banyak masalah. Peta per­masalahan yang saya tang­kap dari para pakar kurang lebih seperti yang ada dalam peta ini:
.

Secara tek­nis tidak bisa diim­plemen­tasikan, dilihat dari sisi hukum tum­pang tin­dih, interp­retasi politis­nya bisa disalahgunakan  pemerin­tah untuk ber­tin­dak secara rep­resif dan meng­ekang kebebasan ber­pen­dapat. Lagian kenapa pusing-pusing ? Wong men­trinya saja belum baca dan sudah akan dibatalkan.
Read the rest of this entry »

Written on February 19th, 2010 & filed under Iseng, Ndobos, Politikana Tags: , , ,

Berita-berita meng­gelikan seputar ting­kah laku ang­gota dewan saat memainkan per­anan mereka dalam sinetron Pan­sus belakangan ini mem­buat saya bertanya-tanya ten­tang profil dan latar belakang para ang­gota dewan yang terhormat.

Berapa banyak artis, pelawak, pengusaha, akademisi, birok­rat yang men­jadi ang­gota dewan ? Bagaimana kom­posisi usia dan latar belakang akademis mereka ? Apakah masih layak untuk disebut taman kanak-kanak seperti kata almar­hum Gus Dur ? Ataukah sekarang sudah lebih canggih ?

Tadinya saya pikir, harus mem­baca satu per­satu profil ang­gota dewan dan meng­um­pulkan statis­tik. Untunglah ter­nyata sudah ada sekum­pulan data olahan yang semes­tinya bisa men­jawab per­tanyaan saya.

Karena dalam situs KPU data-data olahan ter­sebut ter­sebar dalam beberapa file PDF, saya coba gabung hasil olahan ter­sebut dalam artikel ini. Maaf kalau infor­masi ini sudah basi, kemung­kinan besar sudah ada yang mem­bahas dulu saat para ang­gota dewan ini ter­pilih dan dilan­tik. Ter­lan­jur penasaran, jadi catatan ini tetap saya buat.

Akademis

Data akademis ini ter­nyata cukup men­jan­jikan. Sudah jauh lebih baik dari zaman orde baru. Samar-samar saya masih ingat ayah saya meng­eluh ten­tang ren­dah­nya rata-rata pen­didikan ang­gota dewan yang terhormat.

Sekarang mayoritas sudah menyelesaikan pen­didikan paling tidak S1. Semoga semua ijazah­nya asli dan tidak ada yang palsu.

Hosted by imgur.com

Satu hal yang baru saya tahu, ter­nyata par­tai Hanura memiliki ang­gota dewan ber­pen­didikan S2 dengan prosen­tase ter­besar (63%).

Hosted by imgur.com

 

Jenis Kelamin

Masalah ini saya tidak akan ber­komen­tar ter­lalu banyak, ter­nyata politisi per­em­puan masih cukup ren­dah prosentasenya.

Hosted by imgur.com

Barang­kali PKS yang perlu men­dapat per­hatian khusus karena ter­lihat rasio ang­gota dewan per­em­puan jauh lebih rendah.

Hosted by imgur.com

Usia

Ang­gota ter­muda Hajjah. Per­cha Lean­puri, mbak politisi ini ter­nyata baru ber­usia 23 tahun, semen­tara ter­tua adalah H. Mudaffar Sjah ber­usia 74 tahun. 

Hosted by imgur.com

 

Kalau digabung, ang­gota dewan yang ber­usia diatas 41 tahun  ham­pir men­capai 75% ( [38.98+24.59+10.93+0.36]%=74.86%). Ber­arti sisanya, ang­gota DPR yang masih muda hanya sekitar 25%. 

Masih lebih banyak dari ang­gota dewan yang sudah melewati usia pen­siun (61+ ~ 11%), tapi kalah dengan jum­lah ang­gota dewan yang men­dekati usia pen­siun (51+ ~ 36%).

Golongan ter­akhir yang 36% ini saya rasa para politisi gaek, yang sudah makan asam garam, petinggi di par­tai masing-masing dan bisa jadi dominan dalam pengam­bilan keputusan. 

Mereka bisa jadi sekelom­pok sesepuh yang dihor­mati karena diang­gap ber­pengalaman dan mes­tinya lebih bijak­sana. Bisa juga men­jadi kelom­pok yang paling sulit untuk menerima hal baru dan perubahan.

Hosted by imgur.com

Di sini saya tadinya men­duga Gerin­dra seba­gai par­tai ter­muda juga akan memiliki prosen­tasi merah biru (<40 thn) yang lebih tinggi dari yang lain. Ter­nyata dari prosen­tase masih par­tai PAN yang paling besar porsi politisi mudanya (47%). Mung­kin karena banyak artis yang terpilih. 

Peker­jaan

Sebenar­nya hanya data ini yang paling ingin saya bahas. Tapi karena ada yang lain, sekalian saya lam­pirkan dan saya komen­tari seadanya di atas.

Reaksi per­tama saya melihat gam­bar di bawah ini : Takjub !

Hosted by imgur.com

 

Ter­nyata 62.71% adalah akademisi !  Kemana saja mereka selama ini ? Kenapa bolak balik yang sering saya dengar namanya malah Raja Minyak atau Venna Melinjo ?

Jujur saja, awal keisengan saya men­cari data ini hanya sekedar ingin men­cari berapa banyak artis yang sekarang men­jadi ang­gota dewan, dan mem­ban­ding­kan­nya dengan profesi lain seperti pengusaha.

Ber­arti selama ini saya salah saat ber­ang­gapan hanya politisi + pengusaha kaya yang mampu menyediakan dana besar untuk kam­panye yang bisa men­jadi ang­gota dewan, atau artis yang sudah ter­kenal sehingga mereka bisa men­dapatkan suara banyak.

Sayang­nya ketakjuban saya ber­ubah men­jadi kesang­sian saat melihat grafik ber­ikut ini, masih data yang sama ten­tang latar belakang peker­jaan, tapi dipecah per Parpol :

Hosted by imgur.com

Di sini mulai ter­lihat ada yang aneh. Dari semua par­tai yang ada, prosen­tasi akademisi paling tinggi adalah 21% (dari par­tai Hanura). Dengan pengali ber­apapun jum­lah ang­gota dewan per par­tai, tidak akan bisa ter­capai gam­baran besar 62.71% adalah akademisi.

Saya tidak punya data berapa jum­lah ang­gota dewan per par­tai politik, dan kalaupun ada saya tidak cukup rajin untuk mem­buat rekap prosen­tase secara keseluruhan ber­dasarkan data latar belakang peker­jaan per par­tai ini.

Sekilas dari data grafik per par­tai, kemung­kinan besar profesi yang dominan tetap masih pada profesi “swasta” yang saya artikan seba­gai pengusaha. Bagian yang ter­besar kedua adalah “Ang­gota Legis­latif” yang ber­arti para politisi gaek yang ber­hasil ter­pilih kem­bali dalam dua per­iode terakhir.

Jadi kesim­pulan­nya apa ? Secara asal-asalan saya hanya bisa menyim­pulkan bahwa dari kom­posisi ang­gota dewan yang ter­hor­mat sudah lebih baik daripada beberapa puluh tahun lalu.

Politisi gaek, dan pengusaha menurut saya masih dominan, sean­dainya kesang­sian saya akan data 62.71% akademis ini ter­bukti benar. Saya sangat ber­harap saya salah dan grafik itu yang benar, tapi seper­tinya kemung­kinan ini kecil.

Ada seorang kakek ber­usia 81 tahun ber­komen­tar ten­tang kon­disi politik di Amerika:

“Dear, you won’t see any changes until all the baby boomers are gone”.

Barang­kali kutipan di atas ber­laku juga untuk politik di Indonesia.

Written on February 9th, 2010 & filed under Indonesiana, Ndobos, Politikana Tags: , , ,

Deklarasi ormas Nasio­nal Demok­rat memenuhi timeline twit­ter hari ini. Banyak komen­tar lucu, miring dan menarik yang terlontar.

Sebagian menyebut gerakan ini seba­gai barisan sakit hati yang kebetulan punya air­time gratis. Ada yang bilang ini adalah Gol­kar Lite, atau cikal bakal par­tai yang masih malu-malu untuk menyatakan dengan ter­buka bahwa mereka sedang mem­per­siapkan diri untuk 2014.

Ter­tarik dengan komentar-komentar miring ini, akhir­nya saya melihat-lihat ke situs mereka untuk sekedar men­cari tahu. Melirik daf­tar 45 orang deklarator, ada beberapa tokoh muda seperti Anis Bas­wedan, Budiman Sudjatmiko, Eep Saefulloh Fatah atau Mar­tin Manurung. Rasanya tidak sam­pai hati menyebut mereka seba­gai Golkar-Lite.

Pas melihat lam­bang gerakan, tadinya sekilas meng­ira ini adalah kepala burung kuning menun­duk ke kanan, yang sedang menutup matanya dengan ikat kepala biru karena malu ;)) .

Ter­nyata saya salah. Ben­tuk lam­bang ini dimak­sudkan seba­gai ges­tur tangan yang sedang sedang ber­pelukan.

Bagian yang menarik lagi mung­kin platform gerakan yang digam­barkan dalam diagram berikut :

Platform Nasional Demokrat

Platform Nasio­nal Demokrat

Kalau dikira-kira dari gam­bar platform­nya saja, mung­kin gerakan ini ber­mak­sud untuk meres­torasi kekuatan bangsa yang diper­lukan dalam meng­hadapi tantangan.

Meng­em­balikan nilai-nilai yang meng­alami erosi, menem­patkan kem­bali posisi bangsa dalam globalisasi, dan meng­em­balikan jati diri dan iden­titas bangsa yang sekarang dihan­tui kemiskinan.

Bagus, kata pak Tino Sidin, sam­pai sini seper­tinya masih lumayan mudeng apa yang diinginkan oleh par­tai, eh gerakan yang baru dideklarasikan ini.


Lebih lan­jut ten­tang res­torasi seperti apa yang diinginkan, ada di diagram ber­ikut ini :

Restorasi Indonesia

Res­torasi Indonesia

Kotak Res­torasi per­tama, okelah. Bosan juga lihat pemim­pin yang L4, loe lagi, loe lagi. Tokoh-tokoh muda yang ikut men­jadi bagian dari 45 deklarator gerakan ini, sangat men­jan­jikan dan mem­buat saya melihat-lihat lebih jauh gerakan ini. Bukan para inisiator yang sudah senior dan familiar tam­pang­nya ;)

Kotak res­torasi kedua lumayan lucu, karena bisa diar­tikan bahwa Gerak Arus Bawah selama ini ter­nyata tidak selalu atas prakarsa rakyat sehingga perlu dires­torasi. Lan­tas atas prakarsa siapa, prakarsa spon­sor ? ;))

Bagian kanan dari diagram di atas, “Manusia Indonesia yang merdeka seutuh­nya” ter­nyata adalah visi dari gerakan Nasio­nal Demokrat.

Semen­tara misi dari gerakan ini adalah seba­gai berikut :

1. Mem­bangun Politik Solidaritas:

2. Meng­gerakkan Ekonomi Eman­sipatif dan Par­tisipatif:

3. Menumbuh-kembangkan Budaya Gotong Royong:

Nah sam­pai sini saya mulai keberatan untuk mem­bahas lebih lan­jut. Keberatan dalam arti merasa bahwa ini sudah ter­lalu berat untuk orang iseng.

Tidak seperti lam­bang dan diagram visual sebelum­nya yang bisa saya artikan semena-mena, bagian visi misi ini mau tidak mau mesti dibaca dengan hati-hati. Sudah mulai ke luar dari domain keisengan, dan mulai masuk domain kebingungan ;)


Istilah Politik Solidaritas misal­nya, saya hanya bisa menebak-nebak mak­sud­nya apa. Kalau dalam pen­jelasan­nya yang dimak­sud adalah solidaritas nasio­nal, yang kira-kira akan men­jadi tan­tangan adalah primordialisme.

Saat sebagian besar sum­ber daya alam daerah ter­tentu lebih banyak ter­asa man­faat­nya untuk “solidaritas nasio­nal”, bisa tim­bul per­tanyaan. Apakah men­jalankan misi mem­bangun politik solidaritas ini bisa men­jamin ter­capainya visi manusia Indonesia yang merdeka seutuhnya ?

Mem­bangun par­tisipasi rakyat dari ting­kat lokal barang­kali tidak men­jamin ter­capainya solidaritas nasio­nal. Semoga saja saya keliru, tapi bisa jadi malah yang akan men­jadi solid adalah solidaritas politik lokal yang ber­sifat primordial.

Mbuh ah, belum lagi masalah ekonomi eman­sipatif itu. Mung­kin saya saja yang kuper, tapi ndak mudeng itu mak­sud­nya apa. Definisi Ekonomi Kerakyatan yang dulu jaman kam­panye rame diteriakkan saja sam­pai sekarang masih belum jelas, sekarang ada yang baru. Ekonomi Eman­sipatif, dan Ekonomi Partisipatif.

Ini hanya catatan sekilas apa yang ditemukan di situs Nas Dem yang baru dideklarasikan, leng­kap dengan kebingungan-kebingungan saya. Kesan sekilas lumayan menarik, tapi belum ter­lalu mudeng mak­sud­nya apa. Semoga makin lama nanti makin jelas par­tainya seperti apa :P .

Jadi kalau ada yang iseng meng­ajak ngobrol masalah ini, paling tidak saya punya bayangan sekilas dan tahu apa yang akan saya tanyakan pada yang meng­ajak ngobrol :)

Written on February 1st, 2010 & filed under Iseng, Ndobos Tags: , , ,

Demon­strasi 100 hari pemerin­tahan SBY yang kabar­nya akan melibatkan puluhan ribu orang mem­buat saya penasaran dan bolak balik memeriksa Twit­ter timeline dan Google Reader pagi ini.

Ter­nyata sam­pai men­jelang siang (di Indonesia mung­kin sudah sore) belum ada berita yang menarik seputar demon­strasi besar tersebut.

Penon­ton iseng kecewa.

Ter­nyata yang kecewa bukan hanya saya, dari The Jakarta Globe ada dialog saling tuding antara polisi dengan demon­stran. Pak Polisi bilang tidak ter­lalu banyak yang datang karena kekurangan sum­ber dana.

The Deputy chief of the Cen­tral Jakarta Police, Firli, theorized that the organizations involved didn’t have enough money to assem­ble the predicted crowd of 40,000. “40,000 people they said? How can they manage to get them and pay all those people? It’s all about money,” he said.

Semen­tara demon­stran­nya sen­diri bilang ini gara-gara polisi yang men­cegat demon­stran dari luar Jakarta.

Abidin in turn blamed the police, saying they were preven­ting many of his group’s mem­bers from reaching the demon­strations. “Many of our labor friends from Bogor have detained, stop­ped by the police,” he said. “They don’t want us to get here to Jakarta to join the rally.

Untunglah hanya demon­stran dan polisi yang protes, belum ter­dengar penyan­dang dana yang ikut menyatakan kekecewaan­nya. Bisa-bisa jatah pupuk para petani yang tidak ikut meng­geruduk hari ini ter­ham­bat oleh HKTI.

Written on January 28th, 2010 & filed under Iseng, Ndobos Tags: , ,