Malang nasib emaknya si Zul. Hamil tua, bapaknya entah ke mana. Bertanya si Zul, Bapak mana Mak? Bapak hilang ditelan lumpur, kata Emak.Tiap hari Emak jualan brutu di pasar. Pagi-pagi muntah di pinggir jalan.
Bertanya si Zul, kenapa muntah, Mak ? Emak ngidam Zul, jawab Emak. Emak pengen makan pulut kuning, titipan dari jiran kemarin dulu. Jangan Mak, pulut kuning itu sudah basi, kata si Zul. Biar basi tapi Emak pingin sekali, karena waktu itu Emak tidak dibagi. Ngidam pulut kuning sambal terasi, emaknya si Zul pun muntah-muntah lagi.
Akhirnya Zul yang berbakti. Membungkus pulut kuning dengan daun pisang hijau tua. Menyajikan makanan basi dilengkapi dengan sambal terasi cap garuda. Lahap disantap tanpa pikir panjang lagi.
Emaknya si Zul sakit perut, pulut kuning yang sudah basi, masih nekat dimakan pakai terasi. Sekarang Maknya Zul kebelet. Lari ke sungai, jariknya kesrimpet Semburat kuning dari belakang. Diteriaki preman pasar : Kebelet Mak Zul !
Via: @bang Toga.
Norak ya background batik seperti ini ?
Barangkali graphic dan web designer beneran akan sakit mata liat situs ini, dengan kondisinya yang sekarang. Mohon maaf yang sebesar besarnya atas gangguan pada mata anda, kerusakan pada situs ini, bukan pada mata anda. Saya sedang iseng semalem pengen mengubah supaya themes Arthemia ini tidak terlalu standard. Merubahnya sepertinya terus kebablasan.
Buat yang matanya merasa terganggu, setelah anda puas mencela mohon masukan :
- Apa ada saran background batik yang lebih elegan ? Ini motif ceplok batik tradisional, barangkali ada motif lain yang lebih baik. Kalau ada tolong beri tahu, saya lagi pengen menggunakan background batik.
- Apa ada contoh situs yang berbackground batik, tapi tidak kitsch seperti situs ini ?
Kalau ada tolong saya beritahu.
- Buat yang mengerti desain, CSS, pemilihan warna, apa ada pakem yang dilanggar di sini ? Mungkin saya klera-kleru karena tidak terbiasa mengubah-ubah sendiri, kalau ada masukan, celaan atau kritikan sepedas apapun akan saya tampung.
Terimakasih
Ini blog keberapa yang pernah saya bikin ya ? Entahlah. Satu per satu mati suri dan ndak pernah diopeni
Awalnya pertama sekali dulu di Live Journal, pindah ke modblog yang sudah down, sempat ngeblog sebentar di blog friendster. Kemudian setelah itu merusuh di Politikana, bosan dan ganti merusuh di Ngerumpi, mikir-mikir untuk cross posting dan menampung semua sampah yang tertulis di Internet itu di wongiseng.wordpress.com.
Pas diberitahu orang ada free hosting gratis ini, terus iseng mencoba untuk register. Register hosting gratis, domain gratis sampai theme wordpress pun milih yang gratisan. Akhirnya bukannya nulis artikel, malah belajar make vistaPanel (semacam cPanel) yang disediain hosting gratisan ini. Norak memang, katanya orang CS tapi ndak pernah punya hosting sendiri dan ndak pernah mengadminister hosting remotely.
Nyari-nyari template wordpress, buanyak banget yang bagus sampe bingung. Akhirnya ikut-ikutan make Arthemia ini, malah melihat-lihat php templates dari theme Arthemia ini, dan mengubah-ubah sedikit sesuai selera. Masuk dashboard admin wordpress weleh, plug insnya terbatas sekali, mesti nginstall-install sendiri. Kok ribet ternyata ya punya hostingan sendiri ? Belum lagi ternyata ini gratisan, dan diliat-liat lagi ternyata sebenarnya 000a.biz ini cuman reseller dari Byet Host, hosting gratisan lain yang membolehkan anda jadi reseller. Apa jadinya nanti kalo situs ini akhirnya dijual ? Ada yang punya $2500 gak ? dan mau mengadminister free host ini dengan baik supaya blog gratisan ini tidak tiba-tiba lenyap ditelan bumi
Lha terus kenapa ngga beli domain aja sendiri, dan make hosting yang berbayar ? Takut. Takut gak bisa bayar ? Ya bisa jadi itu, tapi mungkin lebih takut nanti kalau sudah bayar, akhirnya ada perasaan terpaksa untuk nge blog. Padahal katanya blog sudah mulai ndak jaman. Yang memperkenalkan saya ke dunia blogging ini dulu pun sepertinya sekarang sudah pensiun ngeblog. Sekarang jamannya micro blogging model twitter, plurk. Walaupun ada yang bilang dua hal ini semestinya saling melengkapi, bukan “versus” tapi “dan”.
Ngeblog setengah hati sepertinya kalo terus-terusan begini. Kenapa ngga nerimo aja di wordpress.com, kan sudah lumayan bagus disitu. Tapi rasanya ndak bebas, ndak bisa menentukan sendiri mau pake plug in apa, dan mau pake themes yang macam apa. Bisa saja tetap disana terus upgrade, mapping ke domain sendiri. Kalau tidak salah dengan $14 per tahun bisa seperti Ndoro Kakung atau Unspun. Tapi ya itu nanti setelah upgrade apa ndak terus jadi malah terpaksa nulis karena sudah bayar ? Belum keterbatasan java script, ndak bisa sembarangan naro apa-apa di sana :/.
Makin dipikirin makin pusing, ada temen yang bilang, mbok sudah beli domain dan hosting berbayar, jadi lebih terjamin. Ya iya lebih terjamin, tapi tetep ndak ada jaminan bahwa saya akhirnya akan terus nulis. Masak udah bayar gitu terus nanti hibernasi lagi beberapa bulan tanpa nulis ? Apa nanti terus jadi memaksakan diri untuk nulis ? Weleh, kerjaan yang semestinya terpaksa dikerjakan saja banyak yang keteteran, kok ini malah mencari bahan keterpaksaan baru
.
Kayaknya sementara ini akan dibiarkan begini dulu saja, mungkin setengah bayar deh, domainnya kapan-kapan beli sendiri, kalau beneran setengah niat akan blogging, tanpa harus merasa terpaksa. Ah kakehan mikir, malah ngga nulis-nulis akhirnya. Ya wislah, nanti tak pikir-pikir lagi dulu, ini nulis ngawur aja dulu nggeremeng sendiri, karena sejak nemu hosting gratis itu ngga nulis apa-apa blas
.
Jujur saja, kalau keinginan untuk saling menyapa, merusuh dan eyel-eyelan di Ngerumpi ini terus saya ikuti, bakal tidak bisa berhenti. Kenapa ? Di rumah dan di tempat kerja, saya selalu daring. Selalu ada dalam jaringan, jarang-jarang luring atau di luar jaringan, paling lebih sering muring-muring.
‘Ah liat sebentar ada kerusuhan apa’, ‘Sik sebentar ngintip orang-orang sedang curhat’, ‘Lho ini ada bahasan tentang filsafat, tak eyel-eyelan sebentar’ adalah godaan yang bisa diikuti dengan segera. Ndak perlu jalan ke warnet, ndak ada hal yang bisa menunda.
Read the rest of this entry »