Baru kemarin menulis tentang suasana panas oranye, ternyata hari ini beneran memang diramalkan menjadi hari terpanas dalam setahun ini. Hari paling panas yang bersamaan dengan saat Belanda mesti berhadapan dengan Brazil.
Warga Belanda berharap mereka bisa mengulang kejayaan Cruyff tahun 1974, yang sempat mengalahkan Brazil dengan score 2–0, walaupun akhirnya kandas ditangan Jerman Barat.
Tapi ya apa bisa ? anak-anak asuhan van Marwijk sekarang beda dengan timnya Johan Cruyff dulu. Yang ditakuti lawan sepertinya hanya Arjan Robben. Sementara yang lain tidak sampai bisa membuat lawan gentar. Eh tapi ini menurut saya yang bukan pengamat bola beneran, cuman kambuhan dan ikut-ikutan kalau yang lain sedang nonton bola.
Yang juga menarik sebenarnya pertandingan ke dua malam ini, setelah Belanda vs Brazil akan ada Uruguay vs Ghana. Bekas juara dunia pertama melawan satu-satunya tim Afrika yang lolos di babak perdelapan final tahun ini.
Menarik karena ternyata sebenarnya di Belanda ada sekitar 20.000 imigran dari Ghana. Separuhnya tinggal di Amsterdam, sebagian besar di daerah Bijlmer. Teman yang tinggal di sana cerita bahwa bendera merah, kuning dan hijau cukup semarak menyaingi warna Oranye di daerah Bijlmer.
Memang daerah Bijlmer Amsterdam ini daerah yang didominasi oleh imigran, yang sebagian besar dari benua Afrika, entah dari Ghana, Nigeria atau Suriname. Lho kok Suriname ?
Memang Suriname ada di Amerika Selatan, tapi karena jaman perbudakan dulu saat Belanda memang menjadi salah satu pusat perdagangan budak, banyak budak dari Afrika keturunan Ghana yang dikirim ke Suriname.
Jadi tidak seperti stereotipe yang kita dengar bahwa orang Suriname banyak yang masih berbicara bahasa Jawa, selama di Belanda saya lebih sering bertemu orang Suriname yang berasal dari benua Afrika.
Alhasil saat The Last Shining Black Star akan tampil melawan Uruguay nanti malam, lumayan banyak juga pendukung mereka di Belanda. Disamping imigran asli Ghana, mereka juga mendapat dukungan dari warga keturunan Ghana yang sempat dikirim ke Suriname dan akhirnya malah menetap di Belanda.
Solidaritas asal usul, disamping kekesalan warga Suriname terhadap van Marwijk yang berbeda dengan van Basten memilih untuk tidak mengajak Clarence Seedorf yang kelahiran Suriname untuk ikut membela tim Oranye.
Jadi ada dua pertandingan malam ini, di hari paling panas sepanjang tahun di Belanda yang akan menarik perhatian warga Belanda asli yang membela tim Oranye, dan para imigran yang membela tim Merah Kuning Hijau (di langit yang biru).
Saya membela siapa ? Saya berharap hasilnya sinkron. Kalau Belanda kalah, semoga Ghana juga. Demikian juga kalau Belanda menang, semoga Ghana juga. Rasanya peluang orang rusuh dan kecewa akan lebih rendah kalau dua-duanya kalah atau dua-duanya girang karena menang.
Daripada kalau salah satu grup supporter menang, dan yang lain harus pulang kandang, panas-panas gini takutnya pada angot
.
Belanda mulai panas. Memang beneran panas dan kering sampai hampir 30 derajat kemarin, dan panas dengan antisipasi orang-orang yang menunggu pertarungan hidup mati Belanda vs Brasil hari Jum’at besok. Walaupun sempat jadi tim hura-hura gratisan Belanda, dan terbawa dengan antusiasme warga negeri kincir angin, tapi sejujurnya saya tidak terlalu yakin tim Oranye akan bisa mewujudkan mimpinya membawa pulang piala emas tahun ini.
Pertandingan-pertandingan sebelumnya mereka mainnya ya gitu-gitu aja. Temen yang fans fanatiknya tim Oranye dan wong londo asli sendiri bilang, tim mereka sekarang main seperti Jerman. Ndak main cantik tapi lumayan yang penting lolos ke babak berikutnya. Jermannya sendiri nanti mesti melewati Argentina dulu, siap-siap melihat bagaimana tampang Maradona kalau timnya mendapat lawan berat. Dari kemaren lawannya tidak terlalu berat, masih memungkinkan Maradona untuk jingkrak-jingkrak seperti anak kecil setiap timnya memasukkan bola ke gawang lawan.
Balik ke tim Oranye, yang jadi headline di beberapa koran Belanda hari ini adalah Van Persie. Yang masih mangkel karena waktu lawan Slovakia, sepuluh menit terakhir diganti. Dia komentar ke pelatihnya bahwa mestinya yang diganti Sneijder. Dua pemain Belanda ini memang tidak akur dari sejak lama. Yang kerepotan sekarang van Marwijk, pelatih Belanda mesti mendamaikan dua anak kecil yang sedang saling ngambek ini. Katanya kemarin sudah dipanggil ke hotel dan diajak ngobrol satu-satu.
Kok mendadak jadi ngomongin bola ? Padahal saya sendiri bukan pengamat, dan jarang-jarang nonton bola. Ya ndak bisa ndak, semua orang di sekitar sekarang ngomongin tentang bola ini, disamping tiap hari pada pake baju oranye sampe bosan melihatnya.
Kontras sekali dengan World Cup 2002, waktu orang Belanda tutup kuping saat ada yang ngobrol tentang piala dunia, karena mereka tidak masuk kualifikasi, sekarang susah menghindar orang ngomongin bola.
Selain karena terbawa suasana, mungkin karena tersadar bahwa blog ini ternyata sudah hampir dua bulan tidak diisi. Jadi akhirnya diisilah dengan sesuatu yang dibicarakan orang disekitar saya saat ini. Kita liat nanti, apa setelah hari Jum’at akan semakin banyak yang pakai baju oranye, atau londo-londo akan tutup mulut dan tutup kuping lagi saat timnya tidak lagi bermain di piala Dunia.
Belakangan ini saya sering mengamati diskusi “hangat” di ranah daring. Entah di Twitter, Blog, atau forum pembaca berita. Panas, sampai saling melecehkan, saling menempelkan label atau bahkan saling memaki. Sesuatu yang di dunia nyata sungkan dilakukan, ternyata sering terjadi di ranah daring.
Tidak jarang terlihat tokoh terkenal, politisi, pejabat tinggi, wartawan berbantahan dengan gaya bahasa dan dialog ala sinetron. Dramatis, penuh penghayatan emosi dan tidak kalah dengan gaya berdiskusi para ababil.
Mungkin bisa dimengerti kalau dialog terjadi antara karakter anonim, karena alter ego memang sering dipakai untuk sembunyi, menyatakan sesuatu yang mungkin memalukan kalau dinyatakan langsung oleh karakter aslinya. Tapi tidak jarang yang menggunakan identitas asli pun tadinya seperti berdebat tapi ujung-ujungnya malah membahas aib lawan bicaranya, bukan memperdalam isu yang diperdebatkan.
Ini menarik, mengapa ketika bertemu langsung kita ramah, senyum, saling sapa dan saling hormat. Tapi ketika berbeda pendapat di ranah daring keramahan dan sopan santun seperti dilupakan. Barangkali ketika bertatapan langsung, adat istiadat dan ajaran sopan santun dari kecil melatih kita untuk memendam emosi, dan menutupi apa yang sebenarnya dirasakan.
Apa sebagai bangsa yang terbiasa sopan dan ramah, kita sebenarnya memendam amarah? Sehingga ketika pertemuan hanya terjadi di ranah daring, maka yang terjadi adalah pelampiasan dari emosi yang terpendam ? Sebagian dari kita (kadang saya sendiri juga sih
) lalu berubah menjadi orang-orang yang daring.
Dare to be careless. Dare to be judgemental.
Berani untuk asbun dan asal njeplak. Berani untuk saling serang secara personal. Membuat diskusi menjadi tidak tentu arah, karena mestinya yang diserang adalah pendapat, opini atau masalah awal yang diperdebatkan. Bukan saling menyerang pribadi yang berdiskusi.
Mungkin kita belum terbiasa memahami latar belakang lawan diskusi tanpa menghakimi, ketika pendapatnya berbeda.
Sebenarnya perbedaan pendapat bisa dipahami sebagai pertemuan antara dua aliran yang memang sumber mata air idenya sudah berbeda. Air asin dan air tawar tidak selalu bercampur dengan sempurna di muara. Tidak jadi masalah, biar saja berdampingan tanpa harus ada yang mengalah.
Tapi mungkin ini susah diterima. Ketika saya berbeda pendapat dengan anda, seolah-olah hanya ada dua kemungkinan, entah saya atau anda yang salah. Sehingga perdebatan harus berlanjut dengan drama untuk menentukan satu dari dua kemungkinan ini.
Padahal barangkali dua-duanya benar menurut pengetahuan mereka masing-masing, atau barangkali malah dua-duanya salah. Ah sudahlah, daripada bingung mending nikmati saja drama-drama daring ini. Itung-itung pengganti sinetron
Sambil menunggu semifinal Champion’s League mulai. Maunya ikut-ikutan mas stein dengan obrolan warung kopinya. Tapi ternyata susah, ngelmunya belum mumpuni untuk menghadirkan tokoh seperti kang Noyo cs. Jadi akhirnya pasrah dengan dialog fiktif tidak jelas ini saja
“Kalau pemimpin telanjang, bagaimana rakyatnya ? mungkin semua jadi ikut-ikutan telanjang ?”
Ah itu kan perasaan situ saja, emangnya kenapa kalau semua telanjang ?
“Pertanyaan aneh. Kalau semua telanjang ya runyam to.”
Runyamnya kenapa ?
“Karena kita menjadi sekumpulan orang yang tidak bermoral.”
Kesepakatan bersama bahwa telanjang itu ndak baik. Orang orang di pedalaman tidak merasa mereka tidak bermoral ketika mereka semua hampir telanjang bulat.
“Ealah tapi kan mereka orang pedalaman yang masih terbelakang. Kita ini bangsa berbudaya, beragama, berketuhanan, masak tidak malu punya pemimpin telanjang ?”
Lha wong sampean ndak malu menonton calon pemimpin itu waktu dia masih sering tampil, kok sekarang jadi malu ?
“Ya dulu kan cuma penghibur, bukan pemimpin. Pripun sampean ini.”
Antara tampilan luar dan kepemimpinan tidak selalu berhubungan. Yang menghubung-hubungkan kan kamu sendiri
“Lha piye to ini, yang namanya pimpinan itu kan panutan masyarakat, harus bisa menjadi contoh yang ditiru.”
Yo karepmu kalau mau begitu, nek njaluk panutan itu ya manuto Kyai, Ulama, Pendeta, Begawan, yang urusannya memang masalah batin dan tingkah laku umatnya.
“Lha tetep orang bisa kehilangan kepercayaan kalau kelakuan pemimpin itu meragukan.”
Yah, tergantung situ mentingin tampilan luar, warna, label atau mentingin esensinya pemimpin ? Ndak selalu penampilan itu bisa jadi dasar untuk memilih pemimpin.
“Ya tapi kan bisa dijadikan pertimbangan untuk memilih.”
Barangkali bisa, tapi tidak cukup dan bukan itu yang penting. Misalnya sampean disuruh milih antara perokok berat, sering selingkuh dan pemabuk, dibanding orang yg tidak pernah merokok, selalu setia pada istri dan tidak suka alkohol milih mana ?
“Ya jelas milih yang ke dua.”
Berarti sampean lebih seneng dipimpin Hitler daripada Winston Churchill ?
“Jiah, ya saya kan ndak tau kalo ternyata yang itu Hitler
”
Lha iya makanya, mbok biar saja, ndak perlu dihalangi kalau ada penari telanjang yang ingin jadi bupatipun. Kalau ternyata rakyat tidak percaya nanti kan akhirnya ndak terpilih.
“Kalau akhirnya terpilih dan banyak artis yang ikut-ikutan gimana ?”
Ya wis mau apa lagi ? Berarti rakyat memang lebih percaya pada artis, pelawak, dan penghibur.
“Lha artis penghibur itu kan ndak tahu masalah manajemen, memimpin pemerintahan, dan politik. Nanti kalau setelah terpilih terus ngawur bagaimana ?”
Nah kalo ini sudah lain masalahnya, bukan urusan telanjang-telanjangan atau moral lagi. Kalau artisnya tidak kompeten, visi misinya tidak jelas, atau setelah jadi bupati nanti ngawur kan paling rakyatnya kapok dan tidak milih lagi.
“Ya barangkali sekarang rakyat sudah kapok memilih pemimpin. Ndak memilih artis, pelawak dan penghibur pun sehari-hari selalu disuguhi sinetron, dagelan dan lawakan politik yang tidak lucu.”
Nah itu ngerasa sendiri. Yang bukan artis saja akhirnya banyak yang ngawur, jadi mungkin ya ndak banyak bedanya. Wis ah, bosen ngomong sendiri, udah mulai tuh Inter vs Barcelona, udah 1–1.
“Ya wis sana nonton. Daripada ngomyang gak jelas di sini.”