Suatu hari dalam per­jalanan pulang naik sepeda yang biasanya hanya lima menit karena tem­pat ting­gal yang tidak ter­lalu jauh, saya sengaja meng­am­bil jalan memutar supaya lebih banyak kalori yang ter­bakar. Menyusur sedikit Ams­terdam Rhijn kanal dan iseng menaiki jem­batan gan­tung yang ter­lihat ber­kelok dan men­daki ke seberang sungai.

Belakangan saya tahu jem­batan ini namanya Nesciobrug. Nescio adalah pseudonim dari Jan Hen­drik Frederik Grönloh, salah seorang penulis Belanda. Sam­pai di seberang, saya men­coba meng­itari sedikit daerah di sana. Ter­nyata banyak orang yang ber­main roller skate. Setelah meng­ikuti orang-orang yang main roller skate ini, ber­temu semacam pan­tai kecil yang cukup ter­sem­bunyi dan meng­ingatkan saya pada pan­tai resort-resort privat yang biasanya di Indonesia hanya bisa dinik­mati oleh pengun­jung bungalow atau hotel berbintang.

Minggu ber­ikut­nya saya lang­sung meng­ajak anak dan istri meng­un­jungi tem­pat yang lumayan menarik ini. Karena setelah beberapa tahun saya ting­gal di Ams­terdam baru tahu ada pan­tai kecil yang ter­sem­bunyi. Biasanya harus ke Zaan­dvort atau Scheveningen kalau ingin men­cari hiburan di ping­gir pan­tai. Rute roller skate juga ideal untuk meng­habiskan waktu seharian dengan anak yang memang belakangan ini sedang hobi main roller schaatsen.

Setelah beberapa kali meng­un­jungi tem­pat ini, baru saya men­coba men­cari lebih jauh sebenar­nya tem­pat ini tem­pat apa. Google punya cerita, ter­nyata ini tem­pat dulunya adalah semacam Ban­tar Gebang !

Sekarang lokasi ini dikenal dengan nama Diemer­park, dan sudah ber­kem­bang men­jadi tem­pat rek­reasi alam. Tapi sebelum­nya daerah ini dikenal dengan nama Diemerzeedijk. Ter­kenal seba­gai daerah yang paling kotor dan penuh polusi, karena merupakan tem­pat pem­buangan sam­pah organik maupun sam­pah kimia pada sekitar tahun 60’an. Saking kotor­nya sam­pai akhir­nya pada tahun 1980 area inipun ditutup dan tidak boleh diak­ses manusia karena diang­gap mem­bahayakan kesehatan.

Pada saat IJBurg dan daerah sekitar­nya mulai dibangun men­jadi daerah pemukiman, mau tidak mau para pem­bangun harus ber­hadapan dengan daerah yang ter­kenal kotor ini. Ter­nyata setelah belasan tahun diisolasi, alam meng­am­bil alih. Sampah-sampah yang dulu dibuang di daerah ini mem­buat lapisan humus yang memung­kinkan ber­aneka tum­buhan ber­kem­bang, dan ekosis­tem alami meng­hidupkan kem­bali daerah ini.

Alam ber­hasil merenovasi dan menyem­buhkan kem­bali daerah yang tadinya sudah diisolasi dan diabaikan oleh manusia. Sam­pai akhir­nya saat ini men­jadi tem­pat ber­main, yang buat pen­datang baru yang buta dengan sejarah daerah disekitar Ams­terdam, sama sekali tidak ter­lihat bekas-bekas bahwa area rek­reasi ini dulunya merupakan tem­pat pem­buangan sampah.

Ter­nyata lokasi yang tadinya rusak parah bisa kem­bali men­jadi indah setelah diisolasi dari sen­tuhan kotor manusia dan diserahkan pada alam untuk mem­per­baiki. Barang­kali Ban­tar Gebang, atau daerah-daerah kumuh di Jakarta bisa diper­lakukan seperti itu *ngomyang*. Diisolasi dan peng­huninya pin­dah tem­pat dulu, setelah direnovasi oleh alam baru digunakan kembali.

Written on July 4th, 2010 & filed under Iseng Tags: , ,